Bukti Kayanya Kerajaan Berkuasa Di Indonesia Zaman Dahulu

Catatan Singkat Kunjungan di Istana Siak Sri Indrapura, Riau

” TAK hanya pengalaman intelektual yang didapat penulis sebagai salah satu peserta Workshop “Peningkatan Peran Jurnalis dalam Penanganan Isu Kerukunan Umat Beragama Tingkat Nasional”, Senin-Rabu (11-13/9) kemarin di Pekanbaru, Provinsi Riau. Di hari kedua, penulis dan para peserta memperoleh pengalaman religi dengan diajak menziarahi bukti sejarah peradaban Islam di Riau, tepatnya di Kabupaten Siak.” MUHAMMAD IQBAL – Riau

TIGA bus pariwisata disiapkan panitia workshop dari Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Sekretariat Jenderal (Setjen) Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) yang mengangkut kami dari Hotel Pangeran, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, Riau berangkat sekitar pukul 08.45 WIB pagi.

Sepanjang perjalanan, tak hanya permukiman warga, pemandangan kiri kanan jalan lebih dominan terhampar perkebunan sawit yang sebagian besar dimiliki warga, selain sejumlah perusahaan perkebunan.

Sekitar dua jam lebih perjalanan lewat jalur darat, tiba di wilayah Kabupaten Siak, pandangan kami sontak dibikin terkesima dengan keasrian dan hijaunya kiri kanan jalan yang tumbuh subuh pepohonan, menimbulkan kesan sejuk dan adem. Ditambah sejumlah taman yang berfungsi sebagai public space dengan penataan yang rapi. Daerah Siak ini sendiri terbagi dua dan dipisahkan dengan sungai Siak. Untuk menghubungkan kedua daerah tersebut, pemerintah setempat telah membangun sebuah jembatan yang megah sekali. Jembatan ini bernama jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah.

Setelah melintasi badan jembatan yang menurut saya mirip Jembatan Ampera di Palembang, lalu melewati komplek perkantoran Pemerintah Kabupaten Siak. Sejenak sempat melewati pusat kuliner pinggiran sungai Siak. Di sini terdapat spot rekreasi keluarga, Taman Syekh Abdurrahman. Nama taman ini sendiri diambil dari nama seorang ulama setempat yang tersohor dan sempat mendalami ilmu agama di Sumatera Barat serta Makkah di abad ke-19, Syekh Abdurrahman Siddiq yang makamnya terdapat di penghujung taman.

Selanjutnya kami menjumpai Masjid Syahbuddin dan di sebelahnya ada Makam Pahlawan Nasional, Sultan Syarif Kasim II beserta keluarga, termasuk bangunan Balairung peninggalan Kesultanan Siak. Tibalah kami di destinasi utama di Siak yakni Istana Siak Sri Indrapura. Istana ini terletak di jalan Sultan Syarif Kasim, tidak jauh dari pelabuhan. Saat memasuki kawasan istana, kami langsung terkagum-kagum dengan kemegahan istana ini. Terlebih di bagian dalamnya. Barang-barang peninggalan kerajaan melayu di Istana Siak ini masih bagus dan tersimpan rapi.

Tidak hanya itu, bangunannya juga sarat akan budaya yang tetap terjaga hingga kini. Istana yang dibangun saat kepemimpinan Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889 yang diarsiteki oleh arsitek berkebangsaan Jerman dan menyimpan berbagai koleksi yang menarik. Kesultanan Siak Sri Indrapura adalah sebuah kerajaan Melayu Islam yang terbesar di Daerah Riau, mencapai masa jayanya pada abad ke-16 sampai abad ke-20. Dalam silsilah Sultan-sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura dimulai pada tahun 1725.

Kesultanan Siak didirikan di Buatan oleh Raja Kecil dari Pagaruyung bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723, sesudah sebelumnya terlibat dalam perebutan tahta Johor. Kini istana yang juga dijuluki sebagai Istana Matahari Timur ini termasuk kedalam wilayah administrasi Pemerintah Kabupaten Siak. Kompleks istana ini memiliki luas sekitar 32.000 meter persegi yang terdiri dari 4 istana yaitu Istana Siak, Istana Lima, Istana Padjang, dan Istana Baroe. Bangunannya terdiri dari dua lantai. Lantai bawah dibagi menjadi enam ruangan sidang: Ruang tunggu para tamu, ruang tamu kehormatan, ruang tamu laki-laki, ruang tamu untuk perempuan, satu ruangan di samping kanan adalah ruang sidang kesultanan, juga digunakan untuk ruang pesta.

Lantai atas terbagi menjadi sembilan ruangan, berfungsi untuk istirahat Sultan serta para tamu istana. Di puncak bangunan terdapat enam patung burung elang sebagai lambang keberanian Istana. Sementara pada halaman istana masih dapat dilihat delapan meriam menyebar ke berbagai sisi-sisi halaman istana, kemudian di sebelah kiri belakang istana terdapat bangunan kecil yang dahulunya digunakan sebagai penjara sementara.

Sekarang istana Kesultanan Siak Sri Indrapura dijadikan tempat penyimpanan benda-benda koleksi kesultanan atau menjadi museum Siak. Koleksi tersebut antara lain : Kursi Singgasana kerajaan yang berbalut (sepuh) emas, Duplikat Mahkota Kesultanan, Brankas Kesultanan, Payung Kesultanan, Tombak Kesultanan, Komet sebagai barang langka. Menurut cerita hanya ada dua buah di dunia, berbagai tanda mata yang diberikan oleh tamu-tamu dari kerajaan lain semasa pemerintahan Sultan ke-11 dan ke-12 Siak dan foto keluarga kesultanan.

Selain itu senjata dan benda-benda kerajaan berupa tombak, keris, meriam, cermin mustika, kursi, lampu kristal, keramik Cina dan Eropa, sendok bermerek lambang kerajaan, dan patung pualam bermata berlian. Menjelajahi Istana Siak benar-benar membuka mata kita akan betapa kayanya kerajaan-kerajaan yang berkuasa di Indonesia di zaman dahulu. Meski sekarang kerajaan-kerajaan ini sudah tidak ada lagi, namun kejayaannya masih patut untuk kita kenang sampai sekarang. Istana Siak buka dari jam 09.00 pagi hingga 16.00 WIB. (Palpres.com)