Harapan yang Tersisa dari Balik Puing SDN Ambruk di Tangerang

Jakarta, Surya Post

Asia Dewi (32) baru hendak mengambil mukena ketika gemuruh terdengar dari belakang rumahnya. Tak lama setelah itu, ia lihat ramai-ramai para tetangga sigap menuju sumber suara, yakni SDN Malangnengah II, Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Rupanya salah satu bangunan di sekolah itu ambruk.Rumah Asia terletak persis di depan halaman sekolah yang biasa dipakai upacara bendera. Sekolah dan rumah Asia dibatas tembok setinggi dua meter.Seperti beredar dalam banyak pemberitaan, salah satu bangunan SD tersebut ambruk pada Senin 11 November 2019. Bangunan ambruk meski renovasi bangunan dilakukan terakhir kali pada 2016.Sejumlah warga memanjat dinding dan pagar sekolah untuk memastikan kondisi ruangan yang sehari-hari dipakai belajar siswa-siswi kelas 4, 5, dan 6 itu. Sebagian warga histeris, meski yang lain berinisiatif mengambil telepon seluler: merekam kejadian.

Gemuruh pertama ternyata cuma pertanda awal mengantarkan gemuruh yang lebih kuat. Kusen dan kayu terlihat tidak kuat lagi menyangga atap bangunan. Seketika, seluruh bagian atap ambruk. Debu berterbangan, material menutupi sekeliling bangunan. “Detik-detik robohnya gedung direkam para warga,” kata Asia kepada CNNIndonesia.com di kediamannya, Kamis (14/11).Robohnya bangunan tersebut sampai ke telinga Kepala SDN Malangnengah II, Saeful Haris. Saeful pun mengaku terkejut. Menyusul ke lokasi kejadian ketika sejumlah petugas dan pejabat sekolah lain datang.

Sudah diprediksi ambruk Sang Kepala Sekolah, Saeful mengaku sudah mengantisipasi ruangan yang bakal ambruk itu. Namun ia tak menyangka ambruknya atap membuat bangunan hampir kehilangan bentuk aslinya.”Seminggu sebelum peristiwa ambruknya atap, sudah dikosongkan selama sepekan,” kata Saeful.Saeful menjelaskan, tanda-tanda ambruknya bangunan telah terlihat sejak satu minggu sebelum berlangsungnya peristiwa. Seperti suara berdenyit di atap, bunyi-bunyi retakan.”Terlebih sudah enam bulan musim kemarau, kena panas (dalam waktu) lama, begitu ketimpa air hujan dua hari sekaligus, langsung mempengaruhi perenggangan tanah,” kata Saeful.

Saeful pun mengaku telah menerima laporan kerusakan bangunan kelas dari salah seorang guru, dua pekan sebelum kejadian. Saeful bercerita, dirinya langsung menengok ke dalam ruang kelas 5 mendapati retak di beberapa sudut dinding.”Langit-langit kelas terlihat cembung ke bawah. Lantai kelas pun berserakan dengan material atap dan kusen,” kata dia.Sejak saat itu, Saeful menganggap sudah saatnya evakuasi murid mesti dipersiapkan.”Saya dan guru-guru lain langsung rapat, lalu kesepakatannya anak-anaknya dipindahkan ke (bangunan sekolah) unit 1,” tutur Saeful.Juju (30), salah seorang wali murid sekaligus penjaja makanan di kantin SDN Malangnengah II juga sempat mendengar bunyi retakan awal. Jujun bercerita, dirinya mendengar suara ketika tengah berteduh di belakang bangunan sekolah.

“Tiba-tiba kedengeran, bruk! Saya kira tabrakan motor, enggak tahunya dari atas ada yang jatuh. Saya pikir ini sekolah mau rubuh, eh satu minggunya kejadian,” tutur Jujun.Menyusul proses pemindahan ruang belajar, pihak sekolah langsung menerapkan metode pembagian kelas sejak Sabtu (2/11). Rangkaian KBM kelas 1 hingga 6 dilimpahkan seluruhnya di bangunan sekolah unit 1.Sesi pagi pukul 7.30 hingga 12.00 menjadi waktu KBM bagi kelas 1,2,5 dan 6. Ada pun kelas 3A, 3B dan 4 menjalankan KBM dari pukul 1 siang hingga 4 sore.Belum ada tindakan berarti CNNIndonesia.com mendatangi lokasi kejadian pada hari keempat pascaambruknya bangunan unit 2 dari sekolah tersebut. Penghalang yang sebelumnya berupa tali rapia buatan pihak sekolah, kini berganti garis polisi.

Area lorong kelas tampak sama sekali belum memperoleh pembersihan. Reruntuhan material masih dibiarkan begitu saja. Lantai lorong dipenuhi oleh batu, pasir, serta pecahan kaca dan keramik. Rak sepatu, tempat sampah, dan papan nama kelas belum berubah posisi. Hanya berlapis debu tebal hari itu.Hampir seluruh bagian langit-langit lorong hancur. Lapisan triplek kompak mengelupas dan memperlihatkan kerangka kayu. Dari bagian luar kelas, terlihat sebagian permukaan dinding berlubang.Beberapa kaca jendela pecah. Tidak sedikit pula yang lepas dari bingkainya. Pintu kelas adalah satu-satunya bagian luar yang hampir tidak mengalami kerusakan berarti. Satu sampai dua pilar sudah terlihat kerangka logamnya.

Menengok lebih jauh, bagian dalam kelas mengalami kerusakan yang paling parah. Lantai serta meja dan kursi kelas sudah tidak terlihat lagi karena semuanya tertutup oleh puing-puing.Bahkan, dinding bagian bangunan yang menghadap timur memiliki lubang yang nampak seperti habis dijebol dengan alat berat. Melalui lubang itu, bisa dilihat beberapa barang yang masih dibiarkan di dalam ruangan kelas, seperti papan tulis, foto-foto pahlawan nasional, sampai kerajinan siswa-siswi.”Kita masih nunggu orang-orang yang kerjain (pembersihan). Masih dicari,” katanya.Saeful menjelaskan, sejumlah instansi sudah berembuk untuk membantu mendirikan kembali bangunan yang ambruk. Bahkan dirinya juga sudah membuat laporan kepada Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar.”Hanya tinggal masalah waktu saja. Masih harus menunggu,” tutup Saeful. (CNN Indonesia)