Hutan Milik Negara Sudah Banyak Alih Fungsi

Photo :KlikSumatera.com

Pagaralam,Surya Post

Dengan adanya peritiwah yang menggegerkan warga kota Pagaralam,seorang warga diserang oleh seekor harimau si Raja Hutan hingga meninggal dunia di dalam kobun kopi.Sehingga membuat warga kota Pagaralam akhir-khir ini, terutama para petani kopi menjadi cemas dan was-was.Menurut informasih di lapangan dari warga setempat,dengan adanya siraja hutan tersebut mengamu dan turun gunung,diduga akibat hutan lindung yang selama ini menjadi habitatnya Hutan itu diganggu dan telah alih fungsi menjadi kebun atau pun ladang.Ketua LSM AMPUH Kota Pagaralam Hairul Pasmah,menanggapi peritiwa tersebut  saat dihubungi wartawan, mengatakan semuah ini berawal rusaknya ribuan hektar hutan lindung di beberapa tempat.

Antara lain di daerah Rimba Candi, Kerinjing, Bukit Patah, Tunggul Bute, sepanjang daerah DAS Sungai Ndikat dan Lematang, Talang Kubangan, Gunung Dempo, Bukit Timur, Bukit Dingin, dan sejumlah daerah seputaran Kota Pagaralam.”Coba kita amati dan cek berdasarkan peristiwa dan kejadian. Yang diserang harimau kebanyakan sudah berbatasan dengan Hutan Rintis atau Hutan Milik Negara tapi faktanya sudah banyak alih fungsi. Ditambah lagi pemerintah yang berwenang gatal tangan dengan mudah memberikan izin penggunaan hutan lindung tanpa memperhatikan daerah setempat, seperti berapa luas hutan lindung dirusak akibat investor pembangunan pembangkit listrik, memang bukan wilayah Pagaralam tapi berbatasan langsung dengan Pagaralam,” jelas Hairul.

Selain itu juga dikatakan Hairul,dari catatan LSM AMPUH, tahun 2001 terkait hutan lindung di Kota Pagaralam terdata sekitar 28.000 hektar tersebar di tiga kecamatan, sekarang tinggal 24.000 hektare saja. ”Itu pun kemungkinan, bila kita cek dengan menggunakan alat bisa saja kurang lagi. Saya berharap pemerintah daerah mendata ulang secara detil berapa lagi tinggal hutan lindung milik Pagaralam, kemudian perusakan hutan lindung yang berada di seputaran Pagaralam juga cukup parah. Lihat saja di Bukit Bantunan, Area Kawasan Hutan Lindung di Gumay, Tunggul Bute, Bangke Lahat, Pendopo dan beberapa lainnya,” paparnya lagi.Notabennya, kata Hairul Pasmah Kota Pagaralam berada di tengah-tengah empat kabupaten sementara hutannya banyak yang rusak seperti Kabupaten Lahat, Empat Lawang, Kabupaten Manak Muara Enim Provinsi Sumsel, dan Provinsi Bengkulu.

“Saatnya sekarang tinggal semua pihak terkait untuk merumuskannya mau diapakan daerah kita ini, dibiarkan terlantar Hutan Lindung dengan serbuan Harimau dan bencana alam atau cari solusi lain dengan duduk bersama cari pemecahan bukan bagi-bagi kekuasaan, atau juga ikut air mengalir,” ujarnya.“Kalau saya nilai alih fungsi hutan bukan terjadi oleh warga saja tapi juga yang Berkedok Investasi pembangunan industri energi listrik, yang sudah marak di Sumsel khususnya di seputar Kota Pagaralam, Lahat, dan Muara Enim,” tandasnya.Sementara itu Menurut Kepala BKSDA Sumsel Peldi,mengatakan pada awak media .Pihaknya juga kesulitan melakukan upaya konkrit selain keterbatasan personil juga termasuk sarana pendukung lain jadi harus di-back up pusat termasuk anggaran.

Untuk sementara ini, kata dia, sudah menurunkan tim untuk melakukan identifikasi keberadaan harimau untuk mengetahui apa harimau yang menyerang warga Tebat Benawa sama dengan di tempat lain.“Kami sudah menurunkan tim saat ini untuk melakukan identifikasi untuk menelusuri bekas Tapak Kaki Harimau Sumatera tersebut, agar dapat diketahui sama atau tidak dengan kemunculan di lokasi lain,” tukasnya.(Red-Net)