Makna Idulfitri

Oleh :Djoni Hartawan Jaya (lampost.co)

MaknaSELAMA dua hari, umat Islam di seluruh jagat termasuk di negeri ini merayakan Idulfitri 1 Syawal 1437 H. Perayaan tersebut merupakan puncak kemenangan setelah satu bulan lamanya umat Islam digembleng menahan hawa nafsu serta meningkatkan iman dan takwa melalui ibadah wajib puasa pada bulan Ramadan.Kemudian sebagai umat muslim, kita memang disunahkan merayakan Idulfitri untuk mengungkapkan rasa syukur atas kemenangan jihad akbar melawan nafsu duniawi selama bulan suci Ramadan tersebut. Namun sayang, dalam merayakannya (seperti yang baru saja kita lakukan beberapa hari lalu) kita masih sangat kerap melihat banyak hal yang justru mengaburkan makna hari kemenangan itu sendiri.Pada hari kemenangan yang diiringi gema takbir dan ditandai dengan silaturahmi saling maaf-memaafkan itu banyak muncul fenomena di sekitar kita, mulai dari ajang pamer materi, pemakaian perhiasan dan mematut diri berlebihan, hingga melimpah dan mubazirnya aneka makanan yang disediakan.

Bahkan untuk menyambut perayaan Idulfitri tersebut sebelumnya banyak yang telah mempersiapkannya sejak jauh hari. Meski terkadang kondisi keuangan sedang tidak stabil, tetap dipaksakan dan jika perlu hingga mencari utangan ke sana-kemari.Fenomena seperti itu tak pelak akhirnya membuat Idulfitri terkesan sekadar perayaan simbolik. Silaturrahmi pada hari kemenangan yang sejatinya menyambung kembali tali persaudaraan yang mulai merenggang dan mempererat ikatan persaudaraan sesama, kemudian berjabat tangan dengan bibir saling mengucapkan maaf, terkesan hanya sebagai sebuah formalitas rutin pada Idulfitri.Padahal, sesungguhnya Islam tak menghendaki perayaan simbolik, bermewah-mewah atau bermegah-megah. Apalagi hingga memaksakan diri. Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang perbuatan kita selama ini. Dengan kata lain, alangkah indahnya jika Idulfitri itu dirayakan secara islami yang kental dengan nuansa religius.

Apalagi jelas dalam Alquran disebutkan “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf 7:31)Perayaan Idulfitri sendiri sebenarnya mengandung makna yang sangat dalam, tak terbatas hanya sebagai ajang silaturahmi saling maaf-memaafkan yang diwarnai dengan kemewahan belaka. Idulfitri adalah hari kemenangan bagi muslim yang telah berhasil melaksanakan ibadah puasa dan mampu menundukan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadan serta mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan. Idulfitri adalah merupakan hari kemenangan sejati karena pada hari itu Allah memberikan penghargaan teramat istimewa yang selalu dinanti-nanti oleh siapa pun, termasuk para nabi dan orang-orang saleh, yaitu rida dan magfirah-Nya, sebagai ganjaran atas amal baik yang telah dilakukannya.

Syeikh Abdul Qadir al-Jailany dalam al-Gunyah-nya berpendapat, merayakan Idulfitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idulfitri sebagai ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Alah swt. Momen mengasah kepekaan sosial kita. Sebab, tak bisa dimungkiri ada pemandangan paradoks, betapa pada saat kita berbahagia pada hari Idulfitri ini, saudara-saudara kita di tempat-tempat lain masih banyak yang menangis menahan lapar.Beranjak dari makna Idulfitri itu pula, satu hal yang perlu dicatat bahwa setelah satu bulan penuh umat Islam digembleng untuk mampu menahan hawa nafsu menaati perintah dan menjauhi larangan Allah dengan penuh keikhlasan, sebab iitu hari kemenangan merupakan sebuah momen penanda keberhasilan tersebut.

Namun, sejatinya Idulfitri jangan hanya dijadikan sebagai sebuah momen perayaan belaka, tetapi lebih dari itu Idulfitri harus dijadikan sebagai sebuah fondasi atau dasar dalam melangkah ke depan sehingga meski Idulfitri perlahan-lahan berlalu dan kita kembali ke aktivitas dan kesibukan seperti semula, tapi makna dan spirit Ramadan serta Idulfitri harus tetap kokoh tertanam di dalam jiwa agar dalam meniti hari-hari ke depan kualitas iman dan takwa kita tetap terjaga, mampu bersabar dan bersyukur, peka dan peduli terhadap penderitaan sesama, serta tulus dan ikhlas dalam berbuat kebaikan. Akhirnya, dengan hati yang tulus dan ikhlas kepada segenap umat muslim di negeri ini, saya mengucapkan selamat hari raya Idulfitri 1437 H. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.(Lampost)