Merindukan Pemimpin

Faktor kepemimpinan merupakan faktor yang cukup krusial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemimpin merupakan penentu bagi arah kebijakan bangsa. Pemimpin adalah sang eksekutor yang menjadi garda terdepan majunya arah peradaban bangsa. Mau dibawa kemana Negara ini sangat bergantug pada pemimpin, sebab pemimpin mempunyai

legitimasi yang kuat dari rakyatnya untuk memegang kendali roda pemerintahan. Pemimpin juga mempunyai kekuatan atau daya paksa yang mengikat untuk menjalankan roda pemerintahannya.

Saya melihat, anarki dan chaos politik yang akan terjadi atau sudah terjadi di tengah pemilihan kepala desa, kepala daerah maupun pemilihan umum dibeberapa daerah tidak lebih disebabkan karena legitimasi pemimpin yang mulai lemah dimata masyarakat. Bagaimana bisa Pilkada Serentak dilaksanakan secara lancar,akuntabel,dan sukses apabila masyarakatNya tidak peduli dengan para calon-calon pemimpin yang diusung. Hal ini diperparah dengan ketidakmampuan partai politik dalam menjalankan fungsinya sebagai media artikulasi dan agregasi kepentingan, pendidikan politik, sirkulasi elit, rekrutmen politik, maupun pengelola konflik. Banyak partai politik yang justru terjebak pada konflik internal. Akibatnya, rakyat pada akar rumput menjadi korban dan hanya di mobilisasikan untuk kepentingan elit tertentu. 

Mungkin, sudah banyak sekali konsep(Teori) yang coba ditawarkan oleh para politisi, negarawan, maupun intelektual, meminjam istilah Gramsci, baik intelektual tradisional maupun organik untuk menjawab kemunduran bangsa dan negeri ini. Namun saya(Iswadi) meyakini, belum ada satupun konsep yang secara kongkret dilaksanakan dengan penuh ikhtiar, komitmen dengan tanggung jawab moral terhadap rakyat. 

Merenungkan Makna Pemimpin

Secara substantif sesungguhnya tugas seorang pemimpin sangat sederhana. Menurut hemat saya tugas seorang pemimpin adalah: Mendengar, Menyaring, Mensaripatikan, Merumuskan, Membangun konsensus, Mengelola, dan kemudian Mengarahkan konstituennya pada satu tindakan kongkret. Saya menyingkat tugas pemimpin ini menjadi 7 M.

Pertama, Mendengar. Persoalan mendengar bisa dikatakan sangat sesederhana dan sangat mudah untuk dilaksanakan. Namun, dalam tindakan praksis hal ini sangat berat. Dari banyak kasus yang terjadi, seorang pemimpin lebih mendengarkan kepentingan pribadi dan golongannya ketimbang kepentingan rakyat maupun kepentingan nasional secara umum. Dalam konteks ini, dan mengatasi kondisi ini kita bisa belajar dari Volltaire. Bagi Voltaire, “suara rakyat adalah suara Tuhan.” Artinya, jika kita seorang pemimpin yang mengklaim diri sebagai wakil dari ummat yang selalu menjaga moral dan etika atas nama Tuhan, hal yang terpenting adalah mendengan rintih tangis kelaparan rakyat. Dalam rintih dan tangis kelaparan itulah kita akan menemukan kemurnian dan kesucian sabda Tuhan. Hal serupa pernah diungkapkan oleh Prof. Dr. Damarjati Supajar yang menurutnya, “demokrasi itu mendengar suara orang-orang kelaparan.”

Kedua, Menyaring. Yang saya maksud dengan menyaring adalah mengumpulkan semua suara-suara rintih kelaparan yang yang menjadi keluhan rakyat. Dalam ranah strategic planing, para akademisi sering menyebutnya sebagai sarana pengumpulan data dan fakta. Dengan mengumpulkan dan kemudian menyaringnya kita akan mampu mengidentifikasi persoalan subtantifya. Faktor kedua ini tidak akan berjalan jika faktor pertama tidak dilaksanakan.

Ketiga, Mensaripatikan. Mensaripatikan adalah persoalan yang sangat berat. Hasil endapan dari mendengar dan menyaring harus dilandasi moral, etika dan keperpihakan yang jelas terhadap jerit rakyat ditengah harga-harga yang semakin mahal. Disinilah kemurnian dan kesucian hati sang ulama, pendeta, atau pemimpin akan diuji dalam menimbang persoalan ummat dan rakyatnya. 

Keempat, Merumuskan. Merumuskan haruslah didasari sikap dan pertimbangan yang matang hasil endapan kondisi obyektik baik ekonomi, politik, social, maupun budaya masyarakat. Kita harus mengingat, tiap daerah ataupun wilayah mempunyai karakteristik yang beberbeda dengan daerah atau wilayah lainnya. Seorang pemimpin harus jeli membaca kekuatan, peluang, hambatan, dan ancaman yang ada disatu wilayah sehingga rumusan kebijakan yang diambil tepat sasaran. 

Kelima, Membangun konsensus. Yang saya maksud dengan membangun konsensus adalah mampu menjadi mediator dan fasilitator untuk melakukan kompromi politik, meminimalisir konflik dan mengelola konflik ( faktor keenam) antar kekuatan politik yang saling bersaing untuk kepentingan yang lebih besar. Dengan adanya konsensus maka akan ada kesepakatan dan kesepahaman. Untuk rakyat, untuk bangsa dan Negara. Dalam hal ini, seorang pemimpin maupun elit politik harus mempunyai karakter rela berkorban untuk kepentingan bangsanya. Teguh, sabar, ulet, serta rela meninggalkan kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan.

Keenam, Mengelola. Seorang pemimpin hendaknya mampu untuk mengelola segala sesuatu yang terdapat di dalam tatanan Sosial,budaya, dan masyarakat di wilayahnya. Termasuk aspirasi dari rakyatnya, karena sudah pasti aspirasi-aspirasi tersebut akan terus berdatangan dimeja kerja si pemimpin. Kemudian disinilah seorang pemimpin harus bisa mengelola aspirasi(Input) tersebut menjadi sebuah output(Kebijakan) yang akan sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Yang terakhir adalah kemampuan Mengarahkan. Dalam Negara yang demokratis logika kompetisi sangat dijunjung tinggi. Aktor-aktor politik saling bertarung untuk melanggengangkan, dan memperebutkan kepentingan serta kekuasaanya. Menurut Gramsci, dalam organisasi consensus (termasuk didalamnya Negara, ideologi dsb), proses hegemoni antara kelas dominan dan yang didominasi terus berlangsung. Faktor yang terpenting untuk menjamin kepentingan kelas tertindas (rakyat kecil) adalah bagaimana membangun kepemimpinan moral, intelektual, maupun politik yang kuat. Setelah pemimpin mampu membangun konsesnsus, yang paling penting adalah mengarahkannya demi terwujudnya cita-cita kesejahteraan bangsa. Seorang pemimpin haruslah mampu menjadi pelopor konsesnsus politik sehingga konflik yang lebih besar yang sifatnya destruktif dapat dihindari. Hal ini sangat berguna dalam pembangunan nation—state(Negara). 

Dari ketujuh perspektif mengenai tugas pemimpin tersebut sebenarnya hanyalah makna simbolitas belaka. Pemimpin hanyalah seorang tokoh yang dipercaya menjalankan amanah. Lantas pertanyaannya, apakah amanah yang hendak dilaksanakan? Bagaimana amanah dijalankan? Mengapa amanah dijalankan? Tentunya dapat kita refleksikan secara bersama. Pertanyaan ini harus mampu dijawab seorang pemimpin dengan membuka ruang kritik yang seluas-luasnya. Kita bersama harus menyadari, pemimpin yang sejati itu bukanlah kita sebagai manusia. Pemimpin yang sejati adalah Visi dan Misi. Sebuah tatanan ideal yang menjadi cita-cita kolektif umat manusia, dengan program kerja sebagai pembimbing yang selalu kita jadikan indikator untuk mengingatkan, apa yang telah dan belum kita laksanakan untuk kepentingan rakyat Indonesia ? (Merupakan tanda tanya yang sangat besar, dan harus dijawab oleh para pemimpin).

Biodata singkat Penulis :

Nama                :           Iswadi

Alamat              :           Perum TOP Blog F7 No 4 RT/RW 023/08 Kel.15 Ulu Kec.SU 1, PLG

No.HP              :           0896-8734-1001

Background      :          Mahasiswa Sosiologi, FISIP Universitas Sriwijaya

No.Rekening     :         1500-01-000088-53-0  (atas nama Nawawi) BRI.




Tinggalkan Balasan