SeKilas Sejarah Kota Baturaja

BATURAJA – Misteri kehidupan zaman prasejarah selalu menarik ditelusuri. Sedikit demi sedikit peradaban manusia purba terungkap dengan adanya temuan fosil, perkakas logam hingga kerangka manusia yang hidup di masa lampau. Terletak 200 kilometer dari Palembang,Sumatra Selatan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menjadi destinasi saya untuk menelusuri lebih dalam hunian manusia di zaman purba. Hingga tahun 2011, tercatat ada 27 goa yang ditemukan oleh Pusat Penelitian Pengembangan Arkeologi Nasional. Baturan Alam di Baturaja Baturan Alam di Baturaja Anda bisa merasakan sensasi berpetualang di Goa Putri cukup dengan membayar Rp.5.000. Goa Putri adalah satu dari banyaknya goa yang ada di Desa Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji. Selain tersohor karena cerita legenda Putri Dayang Merindu yang berubah wujud menjadi batu, di tempat ini juga ditemukan artefak dan kerangka manusia yang konon adalah penghuni goa di zaman pra sejarah. Banyaknya batuan alam juga menjadi cerita mengapa daerah ini dinamakan Baturaja. Di sini Anda bisa menemukan banyak batuan alam dan fosil sisa-sisa hewan atau tumbuhan hasil endapan jutaan tahun lalu.

Baturaja Jaman Dahulu

Hal ini pula yang membuat banyak warga Baturaja berprofesi sebagai pengrajin batu. Panen Duku di Baturaja Panen Duku di Baturaja Siapa sangka benda mati yang kerap tidak memiliki fungsi tersebut ternyata bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna dan memiliki nilai jual tinggi. Satu bongkah batu fosil dengan tinggi satu meter saja bila sudah diolah menjadi model tertentu dibandrol dengan harga Rp15 juta.Beruntung, saat saya datang di bulan Maret ini sedang musim panen buah duku. Buah yang dikenal sebagai ciri khas Kota Palembang itu ternyata aslinya berasal dari Kabupaten Sumatra Selatan. Baturaja adalah salah satu kabupaten penghasil duku sekaligus sebagai daerah penyuplai duku ke kota-kota besar di Indonesia. Saya berkesempatan untuk makan buah duku langsung dari kebunnya. Niat untuk memanjat pohon duku langsung buyar ketika mengetahui bahwa pohonnya tinggi menjulang. Konon, pohon-pohon tersebut berusia cukup tua, bahkan lebih tua dari sang pemilik kebun yang saya temui.

Pindang Ikan Baung Baturaja Pindang Ikan Baung Baturaja Seperti daerah lainnya di Sumatra Selatan, Baturaja dibelah oleh sungai terbesar di Kabupaten OKU, Sungai Ogan dan sungai Komering yang bermuara di Sungai Musi. Tak heran, kuliner khas Baturaja tidak jauh dari makanan berbahan baku ikan. Jangan lewatkan untuk mencicipi pindang ikan culi yang tentunya akan menggoyang lidah Anda. Kuah pindang terasa segar di mulut berkat perpaduan asam kandis, cabai merah dan cabai rawit yang ditumbuk, jahe, serta buah nanas. Lezatnya ikan culi cukup ditebus dengan harga Rp30 ribu. Sedangkan bagi Anda penikmat durian, jangan khawatir, Anda tetap bisa menikmati sensasi buah durian yang dicampur dengan ikan. Hmm…seperti apa ya rasanya? Ternyata buah durian tersebut sudah difermentasikan dan dapat bertahan dalam waktu yang cukup lama, bahkan hingga satu tahun.

Baturaja Jaman Dahulu

Menu pepes ikan baung tempoyak seharga Rp25 ribu pun menjadi menu favorit saya saat berkunjung ke Baturaja. Bagi Anda yang ingin berlibur di Sumatra Selatan, pilihan wisata tidak hanya terpusat di tengah kota. Cobalah untuk berkunjung ke sisi selatan Kota Palembang. Anda akan menemukan pengalaman yang unik dan berbeda dengan menikmati ragam potensi alam, hanya dengan empat jam perjalanan darat dari pusat Kota Palembang. Untuk pengalaman visual menelusuri peradaban masa lampau di Ogan Komering Ulu, Anda dapat menyaksikan di program wisata Metro TV, Travelista, Sabtu, 24 Maret 2012 Pukul 14.30 WIB. (Fani Moe, Twitter: @fuunnyyy) Menelurusi Jejak Peradaban di Kabupaten OKU Menelurusi Jejak Peradaban di Kabupaten OKU BATURAJA – Misteri kehidupan zaman prasejarah selalu menarik ditelusuri. Sedikit demi sedikit peradaban manusia purba terungkap dengan adanya temuan fosil, perkakas logam hingga kerangka manusia yang hidup di masa lampau. Terletak 200 kilometer dari Palembang, Sumatra Selatan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menjadi destinasi saya untuk menelusuri lebih dalam hunian manusia di zaman purba.

Hingga tahun 2011, tercatat ada 27 goa yang ditemukan oleh Pusat Penelitian Pengembangan Arkeologi Nasional. Baturan Alam di Baturaja Baturan Alam di Baturaja Anda bisa merasakan sensasi berpetualang di Goa Putri cukup dengan membayar Rp.5.000. Goa Putri adalah satu dari banyaknya goa yang ada di Desa Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji. Selain tersohor karena cerita legenda Putri Dayang Merindu yang berubah wujud menjadi batu, di tempat ini juga ditemukan artefak dan kerangka manusia yang konon adalah penghuni goa di zaman pra sejarah. Banyaknya batuan alam juga menjadi cerita mengapa daerah ini dinamakan Baturaja. Di sini Anda bisa menemukan banyak batuan alam dan fosil sisa-sisa hewan atau tumbuhan hasil endapan jutaan tahun lalu. Hal ini pula yang membuat banyak warga Baturaja berprofesi sebagai pengrajin batu. Panen Duku di Baturaja Panen Duku di Baturaja Siapa sangka benda mati yang kerap tidak memiliki fungsi tersebut ternyata bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna dan memiliki nilai jual tinggi.

Baturaja kota Beras

Satu bongkah batu fosil dengan tinggi satu meter saja bila sudah diolah menjadi model tertentu dibandrol dengan harga Rp15 juta. Beruntung, saat saya datang di bulan Maret ini sedang musim panen buah duku. Buah yang dikenal sebagai ciri khas Kota Palembang itu ternyata aslinya berasal dari Kabupaten Sumatra Selatan. Baturaja adalah salah satu kabupaten penghasil duku sekaligus sebagai daerah penyuplai duku ke kota-kota besar di Indonesia. Saya berkesempatan untuk makan buah duku langsung dari kebunnya. Niat untuk memanjat pohon duku langsung buyar ketika mengetahui bahwa pohonnya tinggi menjulang. Konon, pohon-pohon tersebut berusia cukup tua, bahkan lebih tua dari sang pemilik kebun yang saya temui. Pindang Ikan Baung Baturaja Pindang Ikan Baung Baturaja Seperti daerah lainnya di Sumatra Selatan, Baturaja dibelah oleh sungai terbesar di Kabupaten OKU, Sungai Ogan dan sungai Komering yang bermuara di Sungai Musi.

Tak heran, kuliner khas Baturaja tidak jauh dari makanan berbahan baku ikan. Jangan lewatkan untuk mencicipi pindang ikan culi yang tentunya akan menggoyang lidah Anda. Kuah pindang terasa segar di mulut berkat perpaduan asam kandis, cabai merah dan cabai rawit yang ditumbuk, jahe, serta buah nanas. Lezatnya ikan culi cukup ditebus dengan harga Rp30 ribu.

Sedangkan bagi Anda penikmat durian, jangan khawatir, Anda tetap bisa menikmati sensasi buah durian yang dicampur dengan ikan. Hmm…seperti apa ya rasanya? Ternyata buah durian tersebut sudah difermentasikan dan dapat bertahan dalam waktu yang cukup lama, bahkan hingga satu tahun. Menu pepes ikan baung tempoyak seharga Rp25 ribu pun menjadi menu favorit saya saat berkunjung ke Baturaja. Bagi Anda yang ingin berlibur di Sumatra Selatan, pilihan wisata tidak hanya terpusat di tengah kota. Cobalah untuk berkunjung ke sisi selatan Kota Palembang. Anda akan menemukan pengalaman yang unik dan berbeda dengan menikmati ragam potensi alam, hanya dengan empat jam perjalanan darat dari pusat Kota Palembang. diambil dari: Baturaja Online diambil dari: (edaan.wordpress.com)