Wasiat Smb Iii, Lestarikan Budaya Palembang

Palembang,Surya Post

Selimut duka menggelayuti relung hati keluarga besar Kesultanan Palembang Darussalam dan warga Palembang pada umumnya. Pucuk pimpinan kesultanan sekaligus tokoh yang dipanuti, Raden Haji Muhammad Syafei Diradja bin Raden Haji Abdul Hamid atau Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) III Prabu Diradja Al Haj meninggal dunia, Kamis (7/9) sekitar pukul 21.30 WIB di kediamannya, Istana Kesultanan Palembang Darussalam, Jalan Sultan M Mansyur, Nomor 776, Kelurahan 32 Ilir, Kecamatan Ilir Barat (IB) II, Palembang.Barulah keesokannya, jenazah Sultan yang semasa hidupnya akrab disapa Mang ini disalatkan di Masjid Agung Palembang Darussalam usai salat Jumat. Kemudian dimakamkan di Taman Pemakaman Keluarga Kesultanan Palembang Darussalam, Kawah Tekurep, belakang Masjid Al Muhajirin, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur (IT) II, Palembang.

Pewaris tahta SMB III yakni putra kandungnya, Raden Muhammad Fauwaz Diradja yang kini telah bergelar SMB IV Jaya Wikrama menuturkan, semasa hidup SMB III Prabu Diradja berwasiat untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Palembang yang mulai terkikis oleh zaman. Termasuk juga menjaga aset-aset Kesultanan Palembang Darussalam sebagaimana pesan yang disampaikan majelis adat. “Apalagi dewasa ini pengembangan pariwisata yang tidak mempertimbangkan kebudayaan setempat dan kearifan lokal. Ini harus dipertahankan, jangan sampai terkikis oleh kepentingan oknum-oknum yang bertanggung jawab,” tutur Fauwaz kepada wartawan usai proses pemakaman SMB III Prabu Diradja, Jumat (8/9).

Menyinggung tampuk kursi kepemimpinan Kesultanan Palembang Darussalam diambil dirinya sepeninggal sang ayah, SMB III Prabu Diradja, Fauwaz merinci bahwa pewarisan tahta itu sendiri sebenarnya telah berlangsung tujuh tahun silam atau tahun 2010. Pria berperawakan sedang nan berwibawa yang sehari-harinya berprofesi sebagai notaris itu mengimbuhkan, prosesi penyerahan tahta itu dilakukan saat dirinya masih berusia 28 tahun. Hanya saja, jabatan itu belum berlaku karena ayahnya masih hidup. “Untuk pengukuhan tahun 2010 lalu kepada saya dengan sebutan Sultan Mahmud Badaruddin IV Jaya Wikrama,” ungkap Fauwaz.

Meski demikian, kata dia, dalam waktu dekat akan dilakukan prosesi kenaikan tampuk kepemimpinan agar dapat dikenal warga Palembang. Prosesi ini sebagai simbol penyerahan secara simbolis benda-benda peninggalan Kesultanan, seperti keris, stempel Kesultanan, dan Al Quran bertinta emas. “Sekarang masih berduka, kita tunggu habis 40 hari saja,” sebut dia. Sementara itu kabar meninggalnya SMB III Prabu Diradja sontak membuat banyak pihak terkejut. Lantaran kematiannya begitu mendadak karena baru saja menghadiri beberapa acara. Mulai menghadiri pisah sambut Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumsel di Griya Agung, Rabu malam (6/9). Kemudian keesokannya, Kamis siang (7/9), beliau menghadiri Haul Ki HA Malik Tadjudin ke-17 dan Peresmian Laboratorium Komputer SMP/SMA NU Palembang, Jalan Jenderal A Yani Plaju Palembang.

Fauwaz menuturkan, ayahnya SMB III Prabu Diradja meninggal usai santap malam bersama keluarga di kediamannya, Kamis (7/9) sekitar pukul 21.30 WIB. Lantas saat hendak masuk kamar, almarhum langsung terduduk dan pingsan. Tak lama kemudian, beliau menghembuskan nafas terakhir. Untuk memastikan kematian almarhum, keluarga sempat membawanya ke Rumah Sakit Charitas Palembang. Namun, dokter memvonis nyawa almarhum tak bisa diselamatkan lagi. “Beliau meninggal di rumah habis makan karena jantung koroner. Kami bawa ke rumah sakit itu sudah tidak ada lagi,” ungkap Fauwaz. Pihak keluarga, imbuh dia, tidak menyangka penyebab wafatnya almarhum. Sebab, semasa hidup tidak pernah mengidap penyakit tersebut. “Memang dua tahun lalu beliau pernah kena darah tinggi, tapi sudah sembuh, pola makan juga diatur. Tapi, ini sudah kehendak Allah, siapa yang tahu,” tukasnya lirih.(Palpres)