Beras Plastik Hanya Isu? Ini Penjelasannya

ilustrasi

Beberapa analis menyebutkan, peredaran beras plastik itu mungkin adalah isu palsu. Budi Santoso, pengusaha alat-alat pertanian dari Surabaya yang sudah

puluhan tahun mengurusi berbagai hal tentang beras (mulai menyelep, mengepak, sampai membuat beras jelek menjadi bagus), termasuk yang meragukan kabar tersebut.

Budi mengatakan, banyak hal yang tidak logis mengenai pemberitaan beras plastik. Mulai bahan, pembuatan, hingga pemasarannya dianggap tidak masuk akal. Menurut dia, plastik tidak mungkin bisa dijadikan bahan beras. ’’Saya kira berita ini hanya untuk pengalihan isu,’’ jelas pria pemilik PT Rutan, perusahaan yang berdiri sejak 1942 itu, Sabtu (23/5).

Hal tidak logis yang paling dasar, menurut Budi, adalah harga plastik jelas lebih mahal daripada beras. Padahal, beras plastik beredar dengan harga relatif murah. Hanya sekitar Rp 8 ribu per kilogram. Karena itu, tidak mungkin mencampur plastik untuk menghasilkan beras yang lebih murah. Yang seharusnya terjadi adalah beras plastik akan lebih mahal.

Tidak hanya itu, pencampuran antara ubi jalar, kentang, dan plastik tidak mungkin bisa dilakukan. Plastik tidak bisa digunakan sebagai bahan pengikat adonan. Untuk melakukannya, diperlukan bahan gelatin atau gluten dari tepung tapioka sebagai perekat.

Selain itu, sifat plastik tidak larut dalam air. Bahkan, jika dipanaskan, plastik tidak akan meleleh. Sebab, titik leleh plastik rata-rata di atas suhu 100 derajat Celsius, sedangkan titik didih air maksimal hanya 100 derajat Celsius.

Dengan demikian, tidak mungkin beras plastik bisa menjadi bubur ketika dimasak bersama air. ’’Kalau dengan minyak, masih bisa plastik itu meleleh karena bahan dasarnya sama,’’ tuturnya.

Budi menjelaskan, butir-butir putih yang selama ini dikira beras plastik sebenarnya adalah biji plastik. Benda tersebut tidak digunakan untuk bahan makanan.

Sementara itu, gambar perbedaan antara beras asli dan palsu yang selama ini ditunjukkan sebenarnya sama-sama beras asli. Budi menambahkan, ada kemungkinan beras sintetis yang disebut-sebut sebagai beras palsu itu sebenarnya adalah bahan makanan khas dari Italia, lasagna. Salah satu bahan lasagna dibuat dari tepung dan dibentuk seperti beras.

Agar bisa dikonsumsi, lasagna beras tersebut hanya perlu direbus dan ditiriskan. Namun, saat perebusan, lasagna itu belum matang. Pematangannya terjadi ketika ditiriskan selama beberapa waktu tertentu.

Untuk menghindari hal itu, orang-orang mencampur adonan tepung dengan kentang. ’’Karena kentang memiliki fiber yang bisa menyerap air sehingga langsung matang ketika direbus,’’ paparnya.

Menoleh ke belakang, sekitar 1969, Indonesia pernah mengalami kekurangan bahan pangan. Presiden Soekarno mencetuskan makanan alternatif yang disebut dengan beras TeKaD (ketela, kacang, dan djagung).

Bahan-bahan tersebut digiling seperti sosis, kemudian digilas dengan 2 rol menjadi pipih. ’’Setelah itu, dipotong kecil-kecil seperti beras tapi bentuknya gepeng, lalu dikeringkan,’’ ujarnya.

Berdasar beberapa fakta di atas, Budi meminta masyarakat agar tidak khawatir. Jika memang ada temuan, dia bersedia membantu penelitian di laboratorium miliknya. ’’Ambil saja sampelnya sedikit, nanti saya sendiri yang melakukan cek labnya,’’ katanya.(rmol) 




Tinggalkan Balasan