Cegah Sistem Kesehatan Kolaps, Penguatan Pelayanan Kesehatan Primer Mutlak Dilakukan

Jakarta,Surya Post

Kasus COVID-19 pada awal tahun 2021 mengalami lonjakan yang tinggi. Sehingga, angka pasien yang dirawat di rumah sakit juga meningkat tajam. Bahkan, Bed Occupancy Ratio (BOR) atau tingkat kapasitas rumah sakit rujukan COVID-1 9 di beberapa daerah melebihi angka 80%.LaporCovid-19 dan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) juga menyatakan sudah saatnya Indonesia menyerukan darurat layanan kesehatan karena lonjakan kasus COVID-19 yang tidak terkendali membuat rumah sakit, terutama yang berada di Pulau Jawa, tidak lagi mampu menampung pasien.  Content Development Intern CISDI, Ardiani Hanifa Audwina mengatakan positivite rate Indonesia juga hampir selalu di atas 20% pada Januari 2021, bahkan beberapa kali menyentuh 30%. “Artinya satu dari tiga sampai empat orang yang melakukan tes PRC sudah terinfeksi,” ungkap Ardiani dikutip MNC Portal Media dari laman CISDI, Selasa (26/1/2021).

Tingginya lonjakan kasus dan penuhnya rumah sakit meningkatkan risiko penularan pada tenaga kesehatan. Dari tanggal 1-19 Januari 2021, LaporCovid-19 mencatat 87 tenaga kesehatan meninggal karena COVID-19. “Artinya, hampir 5 orang tenaga kesehatan meninggal setiap harinya. Bila keadaan terus memburuk, bisa jadi seluruh sistem kesehatan Indonesia akan kolaps,” jelas Ardiani.Ardiani mengatakan penanganan COVID-19 harus memerlukan solusi pendekatan sistem, bukan kasus. “Penguatan layanan kesehatan primer mutlak dilakukan untuk membantu penanganan pandemi,” paparnya.Dia juga meminta untuk melibatkan serta penguatan puskesmas dalam respons COVID-19. Upaya ini mampu meningkatkan kemampuan negara melaksanakan upaya deteksi dini melalui surveilans yang efektif.“Demikian juga halnya dengan peningkatan kapasitas tes, penelusuran kontak, isolasi, dan penanganan awal di tingkat komunitas akan lebih efektif jika dilaksanakan puskesmas,” katanya.Apalagi, kata

Ardiani, Puskesmas juga memiliki memiliki platform upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) yang dapat memobilisasi masyarakat, seperti kader, tokoh masyarakat, serta kelompok kunci untuk bersama-sama menghadapi pandemi.Bahkan melalui program Pencerah Nusantara COVID-19, CISDI memberangkatkan 13 anak muda untuk memperkuat Puskesmas di delapan wilayah di Jakarta dan Bandung. “Mereka melakukan berbagai kegiatan, mulai dari meningkatkan kapasitas SDM Puskesmas dan masyarakat melalui pelatihan, mempromosikan penerapan protokol kesehatan di wilayah penempatan, hingga membantu deteksi kasus dan penelusuran kontak erat,” jelas Ardiani. Baca Ardiani menambahkan CISDI juga terbuka bekerja sama dengan pemerintah untuk memperkuat 3T dan optimalisasi kesehatan primer untuk penanganan pandemi. “CISDI percaya, penguatan pelayanan kesehatan primer akan menguntungkan dalam jangka pendek, yaitu penanganan pandemi COVID-19, dan juga, dalam jangka panjang, untuk membangun pondasi kokoh sistem kesehatan Indonesia,” tutupnya.(SindoNews)