Diduga Bulog Sumsel Konspirasi Dengan Korporasi

Saya Lahir Dari Rahim Petani Hingga Besar Atas Kerja Keras Seorang Petani

Palembang,Surya Post

Tim Sriwijaya Corruption Watch (SCW) Sumsel,telah menggelarkan unjuk rasa di halaman kantor Perum Bulog jalan perintis kemerdekaan rabu 24 Maret b2021.Dalam aksi SCW telah membacakan diduga sejak tahun 2019, 2020 dan 2021 Perum Bulog tidak menyerap beras medium PSO untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP).Melainkan hanya menyerap gabah melalui korporasi besar seperti PT. BPR dan PT. Buyung dengan dalih bahwa perusahaan-perusahaan tersebut memiliki sarana dan prasarana yang lengkap seperti penampungan padi dan pengering dengan kapasitas besar dan canggih.Sriwijaya Corruption Watch (SCW) sebagai organisasi yang konsen dalam upaya pencegahan dan pemberantasan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) di Sumatera Selatan (Sumsel) kali ini menghimpun temuan adanya dugaan indikasi konspirasi dalam hal pengadaan gabah yang diduga dilakukan oleh oknum Perum Bulog Provinsi Sumsel.

Selain itu juga menurut informasi yang SCW menilai dengan pola pengadaan tersebut malah dibuat seperti yang mereka kehendaki dan sebagaimana pada tahun 2021 dikala musim panen harga gabah dan beras di Sumsel anjlok dan terjun bebas.Koordinator Aksi Fadrianto mengatakan “Kenapa ini kami lakukan, karena ini bentuk dukungan kami terhadap petani. Saya lahir dari rahim petani hingga besar atas kerja keras seorang petani, maka itu kami lakukan semua ini. Kami telah berdiskusi banyak di Jakarta terkait bagaimana cita-cita besar yang diusung oleh Bapak Jokowi. Bagaimana mensejahterahkan petani, bagaimana mensejahterakan masyarakat, itulah cita-cita besar yang diusung dan dibangun oleh Presiden RI,” ujar Fadrianto.

Tapi mengapa masih melibatkan para mafia dan cukong yang membuat hal ini menjadi tanda tanya besar bahkan persolan besar.Namun disampaikannya apabila persoalan ini tidak ditanggapi atau direspon, pihaknya meminta agar Kepala Bulog Regional Sumsel mundur dari jabatannya, kemudian menghentikan kerjasama dengan para cukong di Sumsel dan membangun regulasi yang benar, bangun kesejahteraan petani.Sementara M Sanusi As selaku Ketua SCW dan Koordinator Aksi, menilai Kepala Bulog Regional Sumsel tidak cakap dan tidak pro petani karena melihat polemik dilapangan petani menangis dan menjerit karena gabah dan padi tidak dihargai sesuai permendag nomor 24 tahun 2020. Sebab alasan itulah Kepala Bulog Regional Sumsel diminta mengundurkan diri dari jabatan.

“Itu lah menjadi tuntutan kami sehingga kami berkeyakinan bahwa semua ini telah diatur oleh korporasi besar, mereka tertekan petani menjerit ini akan menjadi catatan buruk di Sumsel. Kepala Bulog sudah diatur oleh korporasi besar, ini awal kami akan sampaikan ke pusat kepada kementerian, presiden sekaligus direktur utama Bulog dalam dua minggu ke depan, kami akan melakukan demo ke Jakarta,” tegas Sanusi.Wakil Kepala Badan Bulog Sumsel Rahmat Sahjoni Putra, menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa memberikan statement khusus untuk menanggapi tuntutan teman-teman SCW namun Ia telah mendengar dan menyimak apa yang menjadi tuntutan kawan terhadap permasalahan penyerapan gabah yang dilakukan Bulog hari ini.

“Kemarin saya juga telah dipanggil oleh DPRD Komisi II, dalam pelaksanaan teman-teman dilapangan hari senin kemaren telah mulai mengadakan pengadaan gabah dan beras bahkan dari januari lalu telah dimulai, kalaupun ada terjadi gabah dibawah HPP ternyata bukan hanya dari Bulog saja karena pemerintah akan mengimpor satu juta ton beras dan Dirut kami telah menolak untuk mengimpor beras tersebut,” ucapnya. “Atas perhatiannya dan Kritikannya saya ucapkan terima kasih, menyatakan pendapat memang sudah diatur oleh Undang-Undang, sebagai pimpinan kami menerima apapun saran dari mereka tetapi ada beberapa catatan yang berkenaan Konspirasi tadi, tentunya harus kita buktikan dahulu, harus kita lihat apakah benar kami melakukan konspirasi dengan perusahaan besar. Karena dalam pemberian gabah itu, tidak hanya bisa kita lakukan melalui petani, kita bisa melalui mitra kerja tentunya sesuai SOP dan aturan yang ditetapkan Kantor Pusat,” terang Rahmat.

Untuk saat ini Rahmat menyatakan bahwa setoran beras sudah ada 12 ribu ton dan juga gabah yang telah dibeli, karena itu merupakan arahan dari kantor pusat juga.“Kita harus di awal-awal panen menyerap gabah dan itu akan kita giling di masa-masa penyaluran nanti dan akan lebih baik bila kita membeli gabah, tetapi tidak menutup kemungkinan kita akan membeli beras dari petani,” ucap RahmatIa mengaatakan kalau memang ada data-data yang harus kita beli hari ini, teman-teman wartawan bisa menginformasikan kepada kami agar kami bisa beli melalui Satker “Jadi satuan kerja pengadaan itu bisa membeli gabah dengan kualitas tertentu dengan tetap pihaknya akan bernegosiasi dengan petani agar petani tidak rugi, karena mereka sudah menanam menggunakan banyak biaya tentu pihak Bulog tidak berniat merugikan petani, kalau petani sudah sepakat dengan harga yang telah disepakati barulah akan dilakukan, namun jika tidak maka akan cari jalan begaimana agar petani juga terbantu,” tutup Rahmat. (Sp)