Diidentifikasi Terjadi Jual Beli Kursi Sekolah di OKI

Kayuagung, Surya Post.

Seleksi penerimaan siswa baru (PSB) di SMA Negeri 1 Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dinilai tidak transparan dan tidak akuntabel. Bahkan disinyalir telah terjadi praktek jual beli kursi sekolah sebesar Rp 4 juta hingga Rp 7 juta per siswa.

Tidak ada transparansinya PSB yang dilaksanakan di sekolah favorit Negeri Kayuagung, karena ada bakal calon siswa baru yang memiliki nilai Ujian Nasional (UN) SMP besar namun tidak diterima. Sebaliknya, ada bakal calon siswa baru yang bernilai UN lebih kecil justru diterima di SMA Negeri 1 Kayuagung. Padahal, standar penerimaan sekolah tersebut tidak tergantung dari nilai test.

Hal ini diungkapkan Liberty H Murod warga Kelurahan Mangunjaya Kecamatan Kota Kayuagung, Kamis (28/5/2015). Katanya, ia merasa prihatin atas kondisi yang terjadi di lingkungan pendidikan Kabupaten OKI yang tidak transparan tersebut.

Ia menceritakan, anaknya bernama Anggi Yivana alumni SMP Negeri 1 Kayuagung memiliki nilai rata-rata 86,4 dan menduduki peringkat 8 di kelas. Namun meski memiliki nilai besar, keinginan Anggi Yivana untuk melanjutkan sekolah di SMA Negeri 1 Kayuagung harus kandas.

Kandasnya tekad Anggi Yivana dikatakan Liberty, karena tidak diterima di SMA Negeri 1 Kayuagung. Padahal nilai standar PSB di SMA Negeri 1 Kayuagung yang ditetapkan pihak sekolah yakni 83. Pihak sekolah dinilai tidak melaksanakan amanat peraturan yang telah ada.

“Kami menduga ada praktek jual beli kuris sekolah. Kami sudah mencoba meminta rekap data siswa yang diterima di SMA Negeri 1 Kayuagung tapi pihak sekolah tidak bersedia memberikannya,” ujarnya seraya berharap pihak dinas pendidikan jangan tutup mata dengan hal ini.

Masih kata Leberty, ada anak keluarganya yang memiliki nilai UN lebih kecil dari Anggi Yivana justru diterima di SMA Negeri 1 Kayuagung. “Setelah pengumuman kelulusan, beberapa hari kemudian pihak SMA Negeri 1 Kayuagung dan Dinas Pendidikan OKI menghubungi dirinya. Kedua instansi ini merayu Liberty dengan maksud menawarkan anaknya untuk bersekolah di SMA Negeri 1 Kayuagung,” tutur Leberty panjang lebar.

“Saya tidak mau menerima tawaran itu karena saya sudah terlanjur kecewa. Biarlah anak saya nanti bersekolah di luar OKI saja,” ujarnya yang menyesalkan sikap seorang kepala sekolah yang hanya mementingkan uang untuk meraih keuntungan dalam jual beli kursi sekolah.

Berbeda dengan salah seorang siswa dari SMP Negeri 2 Kayuagung, sebut saja nama Pena. Siswa ini termasuk beruntung masuk di SMA Negeri 1 Kayuagung, karena sudah diponis tidak lulus dan kemudian bisa lulus dengan bersyarat. “Ada kawan saya yang masuk di SMA Negeri 1 Kayuagung dengan membayar uang sebesar Rp 4 juta dengan alasan membeli kursi dan lulus,” kata pelajar SMP Negeri 2 yang meminta namanya tidak disebutkan.

Kadin Pendidikan H Zulkarnain ketika dikonfirmasi tidak berada di kantor dan dihubungi melalui telpon tidak aktif. Demikian, Kepala SMA Negeri Kayuagung Drs Asnawi Zen MSi belum berhasil dikonfirmasi karena saat ditelpon nomornya sedang tidak aktif. Begitu juga nomor handpone Kabid SMP dan Sekolah Menengah Dinas Pendidikan OKI tidak aktif.

Ketua Dewan Pendidikan OKI Ir Turmudi didampingi Sekretaris RM Edy Karry mengatakan, hingga saat ini belum mengetahui informasi tersebut. Tentunya hal tersebut tidak dibenarkan. “Ya nanti dewan pendidikan akan berkoordinasi dan meminta penjelasan dari pihak sekolah mengenai jual beli kursi sekolah,” singkat Turmudi. (and)




Tinggalkan Balasan