Jokowi: Ada Media Nulis Yang Aneh dan Melintir Tentang Saya, Saya Makan Semua

Jakarta, Surya Post.

Presiden Jokowi memastikan dirinya tidak antikritik dari media. Segala macam kritik yang ada

dia terima. Yang baik yang buruk dia makan semua. Bagi Jokowi, kritik tersebut sangat baik sebagai kontrol bagi dirinya dalam menjalankan pemerintahan.

Hal ini disampaikan Jokowi dalam acara silaturahim dengan Pers Nasional yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Auditorium TVRI, Jalan Gerbang Pemuda, Senayan, Jakarta Pusat, malam ini (Senin, 27/4). Acara tersebut sengaja digelar karena Jokowi tak bisa hadir dalam perayaan Hari Pers Nasional di Batam awal Pebruari lalu.

Para tokoh pers senior hadir di acara tersebut. Ada Sofyan Lubis, ada Tarman Azam, Sabam Siagian, Fikri Zufri, dan Atmakusuma. Para pejabat tinggi negara dan beberapa menteri kabinet kerja juga hadir. Ada Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPD Irman Gusman, lalu Mensesneg Pratikno, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya.

Acara dikemas secara santai dan rileks. Di awal acara, Rosiana Silalahi dan Suryapratomo yang memandu acara menggoda Jokowi soal ketidakhadirannya dalam hari pers nasional di Batam. Judulnya hari ini, akhirnya Presiden hadir juga,” ucap Rosi yang disambut tawa hadirin. Jokowi yang duduk di samping Ketua PWI Margiono hanya mesem-mesem.

Dalam sambutannya, Margiono mengaku sangat senang akhirnya Presiden bisa datang dan bersilaturahim dengan insan pers nasional. Pasalnya, saat di Batam, tokoh-tokoh pers sempat kecewa karena Presiden tak bisa datang. Padahal, selama ini Jokowi dianggap sebagai media darling. Teman-teman di Batam bilang, medianya sudah ada tapi mana darling,” ucapnya yang juga disambut tawa semua yang hadir.

Menurut Margiono, keinginan tokoh-tokoh pers nasional sebenarnya sangat sederhana. Mereka hanya ingin bertemu langsung dengan Jokowi, bersalaman, dan foto bareng. Sebenarnya sederhana sekali, imbuhnya. Dengan silaturahim itu, Margiono berharap Jokowi benar-benar sebagai media darling.

Untuk mengukuhkan sebagai media darling, Margiono lalu memakaikan jaket putih ke Jokowi dengan tulisan di dada kiri “Media Darling” dan di belakangnya “Pers Indonesia”. Jokowi terlihat nyaman dan memakai jaket tersebut sampai akhir acara. Sambil mematutkan diri, Jokowi berguyon, “kancingnya banyak sekal.” Gerrr, seisi ruangan tertawa.

Di awal sambutannya Jokowi mengaku sangat berusaha untuk bisa datang di acara tersebut. Dia tidak ingin insan pers kecewa kedua kalinya lantaran dirinya tidak datang lagi. Tadi saya sampai di bandara (sepulang dari Malaysia) jam setengah 5 sore. Masuk Istana jam 5.15. Lalu saya menerima tamu, mandi, salah magrib dan langsung berangkat ke sini. Karena waktu di Batam lolos,” ucapnya.

Menurut Jokowi, saat perayaan Hari Pers Nasional di Batam, dirinya juga sudah sangat berusaha. Saat berada di Filipina dalam kunjungan kerja dia sudah mewanti-wanti pihak protokoler untuk mengatur waktu untuk bisa hadir. Kita kan hanya bisa berencana. Tapi kenyataannya meleset,” ucapnya.

Jokowi paham betul saat ini para tokoh pers kecewa berat. Karena baru kali itu Presiden tidak hadir dalam perayaan HPN. Hashtag-nya dari kanget jadi kecewa. Bahkan saya dengar kecewa banget, karena baru kali ini Presiden tak hadir. Saya langsung pengangan begitu,” ucap Jokowi menggambarkan dirinya juga khawatir dengan kekecewaan itu.

Makanya, untuk acara kedua ini, Jokowi tidak ingin absen lagi. Pertemuan penting KTT ASEAN di Malaysia pun dia tinggalkan untuk bisa bertemu dengan para tokoh pers. Dia memilih meminta Wapres Jusuf Kalla untuk menggantikannya di KTT ASEAN, sementara dirinya pulang untuk bersilaturahim dengan insan pers.

“Coba, sampai kaya gitu. Bener. Ini untuk pers,” ucapnya yang langsung disambut tepuk tangan semua tamu yang hadir.

Menurut Jokowi, forum silaturahim tersebut sangat penting bagi untuk mendengarkan pandangan dan pemikiran dari insan pers. Dengan forum itu juga hubungan pemerintah dan insan pers menjadi lebih erat.

Soal pemberitaan, Jokowi memastikan dirinya tidak antikritik. Dia justru ingin mempertahankan fungsi pers sebagai kontrol dalam bernegara. Makanya, semua kritik yang disampaikan media dia terima semua. Tidak ada pengecualian media besar atau media kecil, semua diterima.

“Nggak pagi nggak malam, saya selalu buka media. Dari media maintream sampai media kecil saya baca semua. Sehingga kalau ada yang nulis aneh-aneh, yang melintir, saya makan semuanya. Yang baik, yang buruk, saya terima. Karena itu fungsi kontrol,” jelasnya.

Jokowi pun meminta media untuk terus mengkritiknya. Jangan sungkan memberikan kritik pedas pada dirinya. “Tak apa sekarang banyak kritik, banyak tulisan pedas, buat saya seger-seger saja, yang pedes juga menyegarkan,” ucapnya.

Namun, Jokowi juga berharap media tidak hanya mengkritik, tapi juga memberikan saran yang konstruktif dan solusi jitu. Dia ingin media mampu menjadi sandaran toleransi dan mampu memainkan peran mendidik dan mencerahkan masyarakat. “Dengan kata lain, saya harapkan media menjadi sebuah cahaya, cahaya moralitas, dan itu semua untuk kemajuan bangsa dan negara,” katanya(rmol)




Tinggalkan Balasan