Konflik Berdarah Masyarakat Desa Pagar Batu Dengan Perusahaan Pt.  Arta Prigel

Lahat,Surya Post

Masyarakat Desa Pagar Batu Kecamatan Pulau Pinang Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan pada 21 Maret 2020 terjadi Bentrok dengan Pihak Perusahaan Perkebunan Sawit PT. Arta Prigel Lahat dilahan yang disengketakan masyarakat desa Pagar Batu sebagai Pemilik Lahan yang dikuasai oleh Perusahaan Perkebunan PT. Arta Prigel sejak tahun 1993.Bentrokkan ini terjadi pada puncaknya Sabtu 21 Maret 2020 pada pukul 14.00 Wib saat itu warga masyarakat desa Pagar Batu dengan pihak perusahaan yang datang ke lokasi yang disengketakan bersama Security dan lima (5) orang aparat polisi dengan membawa senjata laras panjang dan beserta pihak yang membekingi perusahaan diperkirakan berjumlah 70 orang.

Warga desa mendekati langsung ditikam dadanya Putra (korban) dan membacoki badannya kemudian Suryadi ( korban) yang berniat untuk menolong Putra pun jadi sasaran ditikam dan kena bacok dipunggung dan dadanya sehingga aparat kepolisian yang ada dilokasi dengan menembakkan senjata keatas, situasi redam.Dari bentrokkan ini menimbulkan korban dari pihak masyarakat desa Pagar Batu 4 orang jadi korban dengan 2 orang meninggal dunia yaitu Putra Bakti (35) tahun, Suryadi (40) tahun meninggal dunia, dan 2 orang luka bacok ditangan yaitu Sumarlin (38) tahun dan Lion Agustin (35) tahun dari kejadian bentrok ini.

Adapun kronologis terjadinya bentrokkan dilahan yang disengketakan ini adanya upaya masyarakat desa Pagar Batu yang mengajukan pengembalian atas lahan seluas +/- 180,36 hektar milik warga masyarakat desa Pagar Batu yang dikuasai oleh Perusahaan Perkebunan PT. Arta Prigel yang berada di Kecamatan Pulau Pinang Lahat yang menguasai sejak tahun 1993 pada saat rezim Orde Baru dan sampai Maret 2020 ini masih bertahan dan tidak mau mengembalikan kepada warga masyarakat desa Pagar Batu yang banyak langkah dan upayanya kepada Instansi terkait guna menindak lanjuti kasus sengketa lahan ini.Terakhir 1 Maret 2020 Bupati Lahat telah menyurati dan memanggil pihak perusahaan dengan akan meminta perusahaan memberikan kagan 180,36 hektar pola plasma serta melibatkan pihsk terkait, namun hadilnya tetap pihak perusahaan tidak mau memberikan lahan tersebut. (edi)