Nurtini Rela Mengajar dan Tinggal di Wilayah Terpencil di Muaraenim Sumsel Demi Majukan Pendidikan

Palembang,Surya Post

Mengajar tentu bisa dilakukan oleh siapa saja, untuk memberikan pendidikan dan ilmu yang dimiliki kepada orang lain, bahkan ada orang-orang yang tulus mengabdikan dirinya di tengah masyarakat. Hal ini dilakukan oleh relawan yang menjadi pengabdi dalam Program Muara Enim Cerdas, Nurtini Aprilia Kusuma.Dimana dirinya dalam satu tahun terakhir merelakan waktu dan tenaganya untuk mengajar dan tinggal di salah satu wilayah terpencil di Sumsel. Program dari Kabupaten Muara Enim ini adalah turunan dari program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Indonesia Mengajar yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan di wilayah pedesaan. Nurtini, perempuan berusia 24 tahun ini sudah sejak Januari 2020 lalu tinggal di Talang Jernihan Desa Bangun Sari Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim.

Selama satu tahun dirinya bersama 13 teman-teman pengabdi lainnya ditempatkan di beberapa kecamatan berbeda-beda dan mengajar di sekolah yang kekurangan tenaga pengajar. Nurtini ditempatkan di SDN 17 Gunung Megang Lokal Jauh, yang hanya memiliki 3 gedung dengan 5 kelas saja. Murid di sekolah tersebut bisa dihitung menggunakan jari, dengan masih menginduk ke sekolah lebih besar di Desa Bangun Sari yang berjarak sekitar 40 menit perjalanan. Nurtini bercerita bahwa orang sering menyebut sekolah di sana dengan sebutan sekolah talang, karena para orang tua murid yang hidup dan membangun rumah dekat dengan kebun mereka. “Jadi mereka membuat lokal jauh agar anak mereka tetap sekolah, tapi induknya tetap di desa Bangun Sari, sekitar 40 menit untuk sampai kesana,” ujarnya saat diwawancarai via Whatsapp, Kamis (26/11/2020).

Walaupun berada di talang, baginya anak-anak harus memiliki pendidikan yang setara dengan masyarakat di daerah lainnya, terutama di perkotaan.Perempuan asal Ogan Komering Ilir (OKI) ini awalnya memilih menjadi pengabdi karena memang panggilan hati.Selain itu, karena menurutnya untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa itu adalah tanggung jawab bersama, apalagi anak muda, yang memiliki peran untuk mengarahkan anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak. Sebelumnya Nurtini juga pernah beberapa kali menjadi volunteer dalam bidang media dan public relation Asian Games dan broadcasting Asian Para Games di Jakarta, dan beberapa pengalaman lainnya.Begitu pertama kali datang ke Talang Jernihan, perasaan campur aduk menghampirinya, dia merasakan suasana baru yang berbeda dari perkotaan, yang mana fasilitas listrik tidak memadai di daerah tersebut.”Tidak ada listrik PLN di sini, penerangan masih menggunakan genset yang hidup saat malam hari saja dan tenaga surya, tidak bisa hidup selalu, kalau mendung tidak bisa menghasilkan tenaga surya,” ujarnya.

Selain itu, perempuan Kelahiran Kayu Agung, 11 April 1996 ini juga tidak menyangka bahwa di Sumsel masih ada daerah yang belum mendapatkan fasilitas memadai.Kesulitan akses jalan yang masih tanah perkebunan, tanahnya merah bebatuan, saat hujan sangat sulit akses, daerah yang terisolir sekali, sedangkan saat musim kemarau debu banyak sekali.”Sinyal juga sangat sulit dicari, transportasi tidak ada angkutan umum jadi kami harus minta tolong ke warga kalau mau ke luar daerah,” ujarnya. Makanan warga sekitar juga jarang sekali sayur-sayuran, banyak makanannya berupa mie, telur, dan makanan warung, sedangkan  sayur, ikan, ayam jarang ditemui.Tidak hanya itu, anak-anak yang sekolah juga tidak mendapatkan fasilitas yang layak, terutama tenaga pengajar yang hanya ada beberapa orang saja.Bahkan ada salah satu guru, bernama Rusila berusia 56 tahun memiliki keterbatasan fisik tunarungu.Namun semangatnya sangat besar dalam mengajar meskipun dengan kekurangannya, 8 tahun dia menjadi guru di SD Talang Jernihan tersebut. “Ada juga guru honor baru satu bulan ini, dia rela naik motor lebih kurang 30 menit untuk mengajar di sekolah ini,” ujarnya.

Aktivitas para pengabdi tidak hanya mengurusi masalah pendidikan di desa namun juga ada beberapa jobdesk yaitu , 60 persen pendidikan dan 40 persen di bidang pengabdian masyarakat. “Kami juga membantu menjelaskan kepada masyarakat seperti terkait pandemi ini, membantu apa yang harus dipersiapkan untuk mencegah masuk Covid-19 di desa ini,” ujarnya.Saat pagi mengajar di sekolah, siang hari Nurtini mengajar mengaji di TPA, dan malam hari tidak jarang juga ada aktivitas bersama karang taruna desa setempat.”Terkadang kami juga membantu masyarakat jika ada yang kesulitan mengurusi masalah surat menyurat ke pemerintah, apa saja yang bisa kami bantu,” ujarnya.Kehidupan yang belum pernah dapat di perkotaan, fasilitas terutama mengharuskan dirinya mandiri. Tanpa ada sanak keluarga satu pun di daerah orang lain terpencil namun Nurtini mengaku masyarakat setempat sangat menghargainya. “Di sini saya melakukan banyak hal demi orang lain, saya mendapat pelajaran yang dapat diambil untuk diri sendiri, saya ditempa untuk lebih mandiri dan tangguh tidak mementingkan kepentingan pribadi tapi lebih kepentingan umum, mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik,” ujarnya.

Usaha masyarakat sekitar untuk menghadirkan sekolah dekat dengan anak-anaknya sangat patut untuk dihargai, namun masih banyak kekurangan terutama fasilitas dan tenaga pengajar, buku-buku, dan alat olahraga.”mereka tidak mengenal jenis olahraga, mereka jarang keluar daerah, hanya kesehariannya berada di talang ini dari kecil sampai dewasa,” ujarnya.Mirisnya, Nurtini pernah bertanya pada banyak muridnya, ternyata masih banyak anak-anak yang tidak mengenal kota terdekat, seperti Kota Muara Enim dan Palembang. “Oleh karena itu menurut saya mereka butuh pendidikan dan wawasan lebih luas bahwa kehidupan itu tidak hanya di wilayah mereka saja,” ujarnya. Nurtini berharap akan lebih banyak orang yang datang untuk memberikan inspirasi kesini, menjelaskan beragam jenis pekerjaan diluar sebagai petani, berkebun, dan lain sebagainya.Dia berpesan kepada generasi muda untuk terus berjuang dalam kebaikan, meskipun terkadang apa yang diharapkan tidak sesuai dengan realitas.”Tapi jangan menyerah karena selama kita punya prinsip melakukan kebaikan, meskipun itu lambat yakin hasilnya akan baik,” ujarnya. (Sripoku.Com)