Oknum Guru SD Cabuli Siswinya Dihukum 13 Tahun Penjara

Photo : Kabar Rakyat

Kayuagung ,Surya Post

Sidang Lanjutan terhadap terkawa Asmuni alias Muni (51) merupakan seorang guru ber-alamat Perumahan Guru SDN 1 Pematang Sukatani dusun II Desa Pematang Sukatani Kecamatan Mesuji Makmur Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan.Pada sidang online dengan video teleconference,tersebut yng diketui oleh  Majelis hakim Eddy D Sembiring SH MH dan hakim anggota, Lina Safitri Tazili SH dan Firman Kaya SH dibantu Panitera Pengganti (PP) Rosi Kurniadi SH.telah menjatuhkan hukuman kepada terdakwa selama13 tahun denda Rp 50 juta subsider 6 bulan penjara, Kamis (16/4/2020).

Karena terdakwa telah terbukti bersalah melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, membujuk anak yakni korban usia 10 s/d 11 tahun untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul yang dilakukan oleh tenaga pendidik (terdakwa).” Perbuatan terdakwa terbukti melanggar dalam Pasal 82 ayat (2) jo Pasal 76E UU DI No 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No 23 Tahun 2002,”ungkap ketua. Hukuman untuk terdakwa ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ribuan, aniati SH yakni 15 tahun denda Rp 50 juta dan subsider 6 bulan penjara.Perbuatan tersebut dilakukan oleh terdakwa terjadi tahun 2018 dan kembali terjadi 7 Oktober 2019 sekitar pukul 08.00 Wib, bertempat di SDN 1 Pematang Sukatani Kecamatan Mesuji Makmur OKI.

Yakni bermula dari terdakwa menjadi tenaga pendidik sejak tahun 1994 sampai sekarang,Dengan korban Bunga (bukn nama asli) siswanya kelas 5 SD selalu bertemu dan melihat korban saat mengajar di kelas.Pada saat-saat itu timbul niat yang tidak baik terhadap korban, lalu pelaku menjalankan niatnya dengan berpura-pura memanggil anak korban dan mengajaknya ke perpustakaan.” Saat sepi dan masih berlangsung pelajaran di kelas, kesempatan itu dimanfaatkan terdakwa untuk mencabuli korban, “terang hakim.Rupanya, oleh terdakwa korban disuruh hapalan pelajaran IPA dan IPS yang telah diajarkan. Korban menuruti dan masuk dalam perpustakaan setelah menghapal langsung saja terdakwa mencabuli korban.

Dicabuli demikian  membuat korban  kaget. Terdakwa mengancam korban tidak akan naik kelas kalau menolak, karena takut makan korban diam saja dan terdakwa mencabuli korban. Setelah itu korban baru bisa keluar ruangan perpustakaan.Selanjutnya, saat  korban naik ke kelas 6 dan terdakwa menjadi wali kelas, ternyata terdakwa kembali berniat jahat kepada korban. Terdakwa menjanjikan nilai yang besar saat ujian pada rapot anak korban.

Tak hanya itu terdakwa mengancam kepada korban jangan menceritakan perbuatannya kepada orang lain kalau tidak naik kelas.
” Perbuatan cabul korban kembali terjadi karena korban takut dan menuruti terdakwa. Terdakwa pura-pura panggil korban ke gudang dengan alasan menghapal rumus-rumus matematika yang telah diajarkannya. Selesai menghapal, korban dicabuli terdakwa, “jelas  hakim saat sidang putusan.
Usai perbuatan cabulnya, anak korban langsung pergi. Akibat perbuatan terdakwa korban menjadi trauma dan takut bila kejadian itu terulang lagi pada dirinya. (Red/Net)