Pelaku Bacok Ketua Masjid Terancam Pasal Berlapis, Murni Kriminalitas, Tidak Ada Radikalisme

Kayuagung,Surya Post

Terkait aksi pembacokan terhadap korban Muhammad Arif (59) yang merupakan ketua Masjid Nurul Iman di Kelurahan Tanjung Rancing Kecamatan Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) oleh pelaku Mahyudin (50) pada Jumat (11/9/2020) lalu. Terancam pasal berlapis dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan hukuman seumur hidup. Dalam peristiwa itu murni kriminalitas dan tidak ada sangkut pautnya dengan pergerakan ideologi atau kelompok radikal.Hal tersebut disampaikan Kapolres OKI AKBP Alamsyah Pelupesy SH SIk MSi didampingi Ketua DMI Kabupaten OKI Muazni SAg dan MUI Kabupaten OKI Suparjon Allah Tsabit, dalam pres release di Mapolres OKI, Selasa (15/9/2020) siang.

Kapolres OKI AKBP Alamsyah Pelupesy SH SIk MSi menjelaskan, bahwa pelaku Mahyudin melakukan penganiayaan terhadap korban Muhammad Arif, pada Jumat (11/9/2020) sekira pukul 18.15 WIB. Setelah kejadian tersebut korban dilakukan pertolongan ke RSUD Kayuagung kemudian dirujuk ke RS Mohammad Hoesin Kota Palembang. Sedangkan pelaku saat itu juga langsung dilakukan penangkapan.” Untuk motif penganiayaan karena adanya ketersinggungan dari pelaku setelah sholat Jumat, yakni atas penyampaian Korban agar menyerahkan kunci kotak amal ke bendahara dan pada saat itu juga pelaku langsung menyerahkan kunci dan pulang ker umah, “ungkap Kapolres.Lanjutnya, rupanya pada saat pelaksanaan salat Magrib, bahwa posisi pelaku memang sempat berada pada shaf kedua paling kanan, lalu setelah takbiratul ikram pelaku langsung mengambil senjata keluar masjid, sedangkan posisi korban di shaf pertama di belakang imam sebelah kanan yakni sebagai makmun bukan imam.

Masih kata Kapolres, tak lama berselang pelaku kembali ke Masjid membawa senjata tajam jenis parang, lalu langsung melakukan penganiayaan terhadap korban (membacok) korban. Karena posisi jemaah berjarak saat Pademi Covid-19 ini, sehingga pelaku dengan mudah menggapai korban.” Antara pelaku dan korban ini sama- sama pengurus masjid Nurul Iman, mereka satu kompleks juga dan sudah lama hidup berdampingan dan sering berjalan bersama, “jelasnya.Kapolres menambahkan, untuk pelaku ini berdasarkan pemeriksaan BAP, semuanya bisa menjawab pertanyaan secara logis, jadi pelaku ini dalam kondisi sehat walafiat. Lalu untuk rumah pelaku ini sendiri memang telah kosong usai kejadian itu ditinggalkan keluarganya. Tetapi oleh pihak Polres terus dilakukan pemantauan dan tidak ada anarkis dari masyarakat sekitar.

” Hasil penyelidikan dan bukti-bukti di lapangan dan gelar perkara yang dilakukan maka dikenakan pasal berlapis berharap pasal yang terberat. Yakni pasal 355 ayat 2 yang menyebabkan matinya korban dan pasal 340 ayat 1 pembunuhan berencana ancaman seumur hidup. Melakukan penegakan hukum seadil-adilnya agar ada efek jera bagi pelaku, “tandas Kapolres.Sementara itu, MUI Kabupaten OKI, Suparjon Al Tsabit Ali Haq mengatakan, atas peristiwa ini versinya bermacam-macam yang tersampaikan kepada masyarakat, ada yang mengarah Radikalisme, operasi intelijen, dan tindakan yang menyasar ke ulama. Padahal dalam peristiwa ini tidak ada kaitannya dengan isu yang beredar dan murni tindakan individu karena faktor sakit hati dan kekecewaan.

” MUI OKI menyatakan bahwa kasus yang terjadi murni tindakan kriminal tidak ada kaitannya dengan pergerakan ideologi/ kelompok radikal, “tegas Tsabit.Lanjut dia, isu ini berkembang negatif karena adanya kasus penusukan Syekh Ali Jaber, yang saat ini lagi hangat pemberitaan nya. Lalu menganggap bahwa kasus ini sama padahal kasus di Kabupetan OKI tidak ada kaitannya dengan kejadian di Lampung tersebut.” Kami MUI menyatakan kepada seluruh umat islam yang ada di Sumsel dan Indonesia bahwa kasus ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan ideologi dan kasus ini murni kriminalitas, “jelasnya.Ketua DMI Kabupaten OKI, Muazni SAg mengungkapkan, dengan adanya peristiwa penganiayaan yang terjadi di Kabupaten OKI ini merupakan penganiayaan antar pengurus masjid dan terjadi di dalam Masjid.

” Sebenarnya kalau pelaku itu manusia dan sholat di Masjid tidak mungkin penganiayaan ini terjadi, bisa jadi pelaku saat sholat itu bukan dirinya melainkan setan karena sangat di luar logika, sangat aneh sehingga melakukan penganiayaan di dalam masjid dan sangat prihatin,”ucapnya.Sambung dia, jelas peristiwa ini memalukan sebagai warga Kabupaten OKI. Belum lagi isu yang berkembang di Pusat dan dimana mana semuanya negatif, yang melihat bahwa saat kejadian posisi korban menjadi imam, padahal korban bukan menjadi imam” DMI berharap kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya di Kabupaten OKI agar ketua masjid betul – betul menerapkan managemen masjid sesuai dengan tufoksi pengurus masjid,” tegasnya.

Dikatakan, karena yang terjadi bahwa pelaku ini sebagai marbot/ pembersih masjid diberikan kunci kotak amal dan kemudian kunci tersebut diambil, menurutnya itu sepeleh namun hati orang lain tidak sama/ mungkin ada yang merasa tersinggung. Sehingga terjadilah peristiwa penganiayaan tersebut hingga akhirnya korban meninggal dunia.” Berharap kejadian ini tidak membuat resah pengurus masjid dan tidak akan terjadi kembali di masjid lain. Mudah-mudahan permasalahan ini tidak menjadi isu negatif dan OKI kondusif, serta menjadikan permasalahan ini musibah di luar logika kita, “pungkasnya. (Kabar Rakyat)