Pencemaran Sungai Rupit Menimbulkan Penyakit Gatal-Gatal Dan Batuk Serta Plu.

Muratara,Surya Post

Dengan adanya Aksi protes warga melalui media sosial, terkait keruhnya aliran sungai Rupit, akibat aktivitas dompleng darat.  Warga yang berdomisilih di sepanjang air sungai Rupit, ia mengaku bahwa sungai tersebut menjadi keruh dan berlumpur,dengan akibat air sungai tersebut telah keruh dan belumpur selain tidak bisa digunakan juga menimbulkn penyakit gatal-gatal dan batuk serta plu.Hal ini diungkapkan seorang warga Desa Batu Gajah Kahar, di katakannya pihak warga mendesak pemerintah Daerah dan pihak penegak hukum,supaya  segera turun tangan untuk mengatasi masalah itu. Pasalnya pemerintah mempunyai kewenangan untuk menyetop aktivitas yang dianggap meresahkan masyarakat.

“Kami minta pelaku penambaang ilegal itu di stop. Mereka menambang di aliran sungai, sehingga sungai menjadi keruh,” katanya, Minggu (3/1).Aktivitas dompleng itu saat ini, tengah marak terjadi di aliran sungai Muara Tiku, Kecamatan Karang Jaya dan Sungai Minak, Kecamatan Rupit dengan jumlah puluhan mesin dompleng beroprasi siang dan malam. Para pelaku menggunakan mesin disel penyedot air ukuran 6-12 ins untuk menyedot pasir di dasar sungai.Kondisi itu selain mengakibatkan aliran sungai keruh, juga menimbulkan perubahan aliran sungai. Karena pelaku menumpukan sisa galian di aliran sungai. Sehingga menimbulkan pendangkalan aliran sungai.Akibat dari kegiatan yang dilakukan oleh  penambang liar Itu, menyebabkan air sungai Rupit menjadi keruh dan berlumpur.

“Kalau tidak ada tindakan dari Pemerintah berarti Pemerintah tutup mata, maka kami masyarakat akan melakukan aksi demo dalam waktu dekat,” ancamnya. Kahar mengatakan, keruhnya sungai yang bercampur lumpur menimbulkan dampak kesehatan. Banyak warga yang terkena penyakit gatal-gatal, batuk, flu dan bermacam penyakit kulit.Terpisah Kepala DLHP Muratara, Zulkifli melalui Kabid pengendalian, dan peningkatan Kapasitas lingkungan hidup (PPKLH), Gunawan saat dikonfirmasi engungkapkan, DLHP secara rutin melakukan pengecekan aliran sungai dan membanyah adanya pencemaran Sungai Rupit.“Hasil Lab bulan 10 (Oktober 2020, Red) 30 sungai di Muratara termasuk Sungai rupit masih dinyatakan layak di konsumsi. Tidak ada kandungan kimia atau mercury,” timpalnya.

Sebelumnya,  Direktur Eksekutif Walhi Sumsel, M Hairul Sobri sempat menyoroti masalah keluhan warga Di sepanjang aliran sungai Rupit dan Sungai rawas. Pihaknya mengaku siap melakukan investigasi mengenai dugaan pencemaran  lingkungan di wilayah perairan Muratara.“Kita minta pemerintah menjalankan fungsi pengawasan, jangan sampai dampak pencemaran itu meluas.  aktivitas tambang emas pasti menggunakan bahan kimia yang berbahaya, apa lagi tambang ilegal,” tegasnya.Menurutnya, pihak yang paling berwenang dalam pengawasan ini merupakan Pemerintah Daerah. karena Pemerintah Daerah merupakan otoritas tertinggi di lingkup wilayah kabupaten. “Kalau pemerintah tidak menjalankan fungsi pengawasan tentunya bisa di tuntut dan dijatuhkan sangsi, sesuai undang undang yang berlaku” tuupnya.(Sp)