Pengelola Penangkaran Buaya Segera Menagkap  Buaya Yang Lepas

Palembang.Surya Post

Dengan terjadinya sekor buaya lepas kolam ikan milik orang lain,yang berada di daerah kecamatan talang kelapa kebupaten Banyuasin.Balai Konservasi Sumber Daya Alam meminta penangkaran buaya tersebut  agar diperbaiki,karena kondisi kandangnya yg ada itu sudak tidak memungkinkan lagi.Hal in i diungkapkan Kepala BKSDA Sumatera Selatan (Sumsel), Genman S. Hasibuan, Kamis, mengatakan penangkaran buaya tersebut dikelola badan usaha PD Budiman dengan izin Penangkaran Jenis Reptil Dilindungi UU Generasi Kedua (F2), namun izinnya sudah habis pada tahun ini.

“Pengelola ingin memperpanjang izinnya lagi, namun kami sebagai pemberi rekomendasi teknis akan melihat dulu sarana dan prasarananya, kami minta supaya kandang yang bolong diperbaiki dulu,” ujarnya dihubungi dari Palembang.Mengingat pada 7 September 2020 yang warga RT 30 Kelurahan Sukomoro di sekitar di dihebohkan dengan buaya muara sepanjang 2,5 meter yang muncul di kolam ikan, meski buaya dapat diamankan, namun warga meminta penangkaran itu ditutup karena kondisi kandangnya banyak bolong. Warga pun menduga masih banyak buaya yang keluar dari penangkaran dan berkeliaran di sekitar anak sungai setempat, sehingga warga mendesak BKSDA untuk menangkapnya.

Selain itu juga itu juga menurut Genman izin penangkaran buaya tersebut berada di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di Jakarta, sehingga BKSDA tidak memiliki kewenangan untuk menutupnya melainkan hanya memberikan rekomendasi teknis.Sementara persoalan antara warga dan penangkaran tersebut sudah diselesaikan, menurutnya pengelola telah berjanji memperbaiki kandang pasca dilayangkan surat dan pihaknya bersama PD Budiman akan menangkap buaya muara yang disebut masih berkeliaran di sekitar penangkaran. “Kami minta warga menunjukkan di mana lokasi kemunculan buayanya, tapi kalau posisi buaya masih di area penangkaran maka tidak kami evakuasi karena itu habitatnya,” kata Genman.

Ia mengingatkan warga agar tidak bertindak sendiri terhadap buaya-buaya tersebut, karena berdasarkan UU Nomor 05 Tahun 1990 buaya menjadi salah satu hewan dilindungi dan warga bisa dikenakan pidana jika membunuhnya.Adapun penangkaran buaya PD Budiman itu selama bertahun-tahun memegang izin untuk menjual kulit buaya dari anakan yang dihasilkan dari dalam penangkaran, kata dia, namun selama lima tahun terakhir produksi kulit terhenti dan pengelola belum memperpanjang izin pemanfaatan.Sementara itu menurut Ketua RT 30 Kelurahan Sukomoro, Nur Cahya telah meminta BKSDA dan pengelola penangkaran menyisir seluruh lokasi agar buaya yang lepas segera ditangkap mengingat saat ini sudah memasuki musim hujan.”Kalau sudah musim hujan biasanya sungai itu meluap, kami khawatir buaya merayap kemana-mana bahkan bisa sampai pemukiman, masyarakat sangat resah dengan buaya-buaya yang di luar penangkaran itu,” ujar Nur.(Red-Net)