Perantara Suap Djoko Tjandra Menangis di Pengadilan, Ini Katanya

Jakarta,Surya Post

Terdakwa perantara suap Tommy Sumardi mengajukan pleidoi atau nota pembelaan terkait perkara penghapusan red notice Djoko Soegiarto Tjandra. Tommy didakwa menjadi perantara suap dari Djoko kepada Irjen Napoleon Bonaparte dan Brigjen Prasetijo Utomo.Dalam pembelaannya, Tommy menyatakan semua keterangan yang dia sampaikan baik dalam proses penyidikan maupun persidangan adalah benar. Termasuk soal penerimaan uang yang masuk ke kantong Napoleon dan Prasetijo.”Yang pasti, peristiwa penyerahan uang itu benar adanya. Sebagian pihak, khususnya pihak terdakwa Napoleon Bonaparte dan Prasetijo Utomo menuduh saya merekayasa kasus, sungguh tidak masuk akal dan mengada-ada. Untuk apa saya merekayasa kasus, sementara saya sendiri menderita dalam penjara, tidak dapat bertemu istri dan anak-anak saya,” ujar Tommy di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis, 17 Desember 2020.

Tommy mengatakan, sejak awal dirinya diperiksa sebagai saksi, dia diminta penyidik untuk jujur. Faktor umur yang dijadikan patokan oleh penyidik agar Tommy tak mengada-ada. Namun Tommy meminta maaf apabila dirinya lupa terkait waktu pemberian uang kepada Napoleon dan Prasetijo.”Kalau ada sesuatu yang keliru mengenai tanggal dan waktu pertemuan dengan Napoleon Bonaparte, Prasetijo Utomo, dan peristiwa penyerahan uang, saya mohon maaf karena usia dan tekanan fisik dan psikis selama dalam tahanan membuat saya agak linglung di persidangan ini,” ujarnya.Sambil menangis, Tommy juga menyinggung sedikit soal kehilangan momen kebersamaan dengan keluarganya karena terdapat masalah ini. Namun ia memastikan bahwa dirinya masih bisa berfikir jernih dan tak lantas merekayasa semua keterangannya.

“Majelis hakim yang mulia, di sini saya tegaskan saya masih waras, hanya orang gila yang merekayasa kasus untuk memenjarakan dirinya sendiri. Saya punya keluarga, punya anak, dan pekerjaan. Untuk apa saya meninggalkan semua ini hanya demi merekayasa kasus? sungguh tidak masuk akal,” ujarnyaOleh karena itu, Tommy meminta kerendahan hati Majelis Hakim Pegadilan Tipikor agar memutuskan perkara yang membelitnya dengan adil.”Majelis hakim yang saya muliakan, saya sudah berusia 63 tahun, saya ingin mengisi sisa hidup saya dengan tenang bersama keluarga saya, dengan tulus mohon maaf sebesar-besarnya atas kekeliruan dan kesalahan saya, saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan saya lagi,” kata dia.Diberitakan sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum menuntut Tommy Sumardi pidana penjara selama 1 tahun 6 bulan. Tommy diduga bersalah sebagai perantara antara terpidana hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra dengan dua jenderal Polri, Brigjen Prasetijo Utamo dan Irjen Napoleon. Ia dianggap jaksa sebagai justice collaborator karena bukan pelaku utama dan bersedia membongkar kasus tersebut.(viva,co.id