Petugas Rutan KPK Lapor ke Polisi, Dipukul Mantan Sekretaris MA Nurhadi

Jakarta,Surya Post

Petugas rumah tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menjadi korban pemukulan oleh mantan Sekretaris Mahkamah Agung, Nurhadi, memutuskan untuk melapor ke kepolisian.Nurhadi adalah tersangka kasus korupsi menerima suap terkait penanganan perkara di Mahkamah Agung. Selain Nurhadi, tersangka kasus yang sama adalah menantu Nurhadi. Mantan pejabat di lingkungan MA sempat menjadi buronan selama dua tahun.Juru bicara KPK, Ali Fikri, mengatakan bahwa petugas rutan KPK tersebut melaporkan kejadian pemukulan yang dialaminya ke Polsek Setiabudi, Jakarta pada Jumat sore.“Pelaporan didampingi oleh pihak Biro Hukum KPK. Sebelumnya, juga telah dilakukan pemeriksaan oleh pihak dokter rumah sakit kepada petugas rutan yang dimaksud,” kata Ali di Jakarta seperti dikutip KompasTV, Sabtu  (30/1/2021).

Ali mengatakan, KPK menyerahkan sepenuhnya proses penanganan kasus dugaan penganiayaan itu kepada kepolisian. Tindakan kekerasan, apapun bentuknya terlebih kepada aparat yang sedang bertugas,  merupakan tindakan yang tidak dibenarkan menurut hukum.Sementara itu, kuasa hukum Nurhadi, Maqdir Ismail, mengatakan bahwa insiden dugaan kekerasan yang dilakukan kliennya terjadi tidak berdiri sendiri.Menurut Maqdir, ada provokasi sehingga membuat Nurhadi memukul petugas tersebut. DIkatakan, jika tidak diprovokasi maka Nurhadi tidak mungkin marah.Dalam kasus ini, menurut Maqdir, Nurhadi seperti disalahkan secara berlebihan, sehingga membuat citranya menjadi semakin buruk. Ia berharap peristiwa ini bisa diselidiki.“Kita akan minta Nurhadi bicara kebenaran. Apa penganiayaan ini sampai pingsan? Apa sebegitu pentingnya peristiwa ini sampai diumumkan?” tutur Maqdir.

Maqdir Ismail, mengatakan, sampai sekarang belum bisa berkomunikasi dengan Nurhadi. Ia hanya mendapat informasi terkait dugaan penganiayaan oleh kliennya dari wartawan.Sebelumnya, peristiwa dugaan kekerasan yang dilakukan Nurhadi kepada petugas rutan KPK terjadi pada Kamis sore. Menurut Ali Fikri, insiden pemukulan petugas Rutan tersebut akibat salah paham.Nurhadi adalah mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) terjerat kasus suap dan gratifikasi terkait pengurusan administrasi perkara di MA. Ia dituduh menerima suap hingga puluhan miliar rupiah, dan sempat menjadi buronan selama dua tahun.Insiden itu terjadi pada sekitar pukul 16.30 WIB, Kamis lalu di Rutan Ground-A yang berada di Gedung KPK Kavling C-1. Menurut Ali, peristiwa ini diduga terjadi karena kesalahpahaman saat petugas menyampaikan sosialisasi kepada penghuni Rutan.

Ketika itu, menurut ALi Fikri, petugas Rutan KPK menyampaikan tentang rencana renovasi salah satu kamar mandi untuk tahanan.Tindakan kekerasan fisik yang dilakukan Nurhadi, menurut Ali, turut disaksikan oleh petugas Rutan KPK lainnya. Terkait peristiwa kekerasan fisik ini, pihak Rutan KPK akan melakukan pemeriksaan sesuai mekanisme yang berlaku terhadap Nurhadi.Nurhadi adalah mantan pejabat di MA, sempat melarikan diri selama dua tahun setelah ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Sejak awal, penyidik mengatakan bahwa KPK sudah mengantongi identitas pihak yang membantu Nurhadi selama menjadi buronon.Pihak yang membantu terdakwa selama buron adalah keluarganya sendiri. Ketika itu, KPK mengingatkan bahwa pihak yang membantu Nurhadi selama buronan dapat dikenakan pasal merintangi penyidikan atau pasal 21 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sosok yang membantu Nurhadi tersebut merupakan saudara Nurhadi sendiri, bukan dari kalangan pejabat atau aparat. Pihak keluarga Nurhadi ikut membantu memberikan kebutuhan Nurhadi semasa jadi buronan KPK.Nurhadi dan menantunya Rezky Hebriyono sempat berstatus buron selama hampir 4 bulan sebelum akhirnya ditangkap KPK pada bulan Juni tahun lalu.  Ketika itu, keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka perkara suap dan gratifikasi terkait penanganan perkara di MA.
Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap senilai Rp 45,7 miliar dari Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal Hiendra Soenjoto dan gratifikasi senilai Rp 37,2 miliar dari sejumlah pihak yang berperkara di lingkungan pengadilan.Disebutkan, suap itu terkait dua perkara di MA, yakni perkara antara PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (PT KBN) mengenai perjanjian sewa-menyewa depo container milik PT KBN seluas 57.330 meter persegi dan 26.800 meter persegi yang terletak di wilayah KBN Marunda kav C3-4.3, Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.

Kemudian gugatan Direktur Utama PT MIT 2014-2016 Hiendra Soenjoto melawan Azhar Umar.Jaksa pada KPK menilai Nurhadi dan Rezky Herbiyono telah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama untuk mengurus perkara di MA.Untuk mengurus perkara tersebut, Nurhadi melalui Rezky telah menerima uang senilai total Rp 45.726.955.000 dari Hiendra Soenjoto yang diberikan melalui 21 kali transfer ke rekening Rezky Herbiyono, Calvin Pratama, Soepriyono Waskito Adi dan Santoso Arif pada periode 2 Juli 2015 hingga 5 Februari 2016 dengan besaran bervariasi dari Rp21 juta sampai Rp10 miliar. “Telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut, menerima hadiah atau janji, yaitu menerima uang sejumlah Rp 45.726.955.000,” ujar JPU KPK Wawan Yunarwanto saat membacakan surat dakwaan di pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (22/10/2020).

Selain suap, Nurhadi dan Rezky juga didakwa menerima gratifikasi berupa uang senilai total Rp37,287 miliar dari para pihak yang memiliki perkara di lingkungan pengadilan baik di tingkat pertama, banding, kasasi, maupun peninjauan kembali (PK).Atas perbuatan suap tersebut, Nurhadi dan Rezky didakwa dengan pasal 12 huruf-a atau pasal 11 UU Tipikor jo pasal 55 Ayat(1) ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat(1) KUHP dan pasal 12 B UU Tipikor jo pasal 65 ayat(1) KUHP.Sedangkan suap yang diterima Nurhadi melalui Rezky digunakan untuk kepentingan pribadi. Seperti membeli lahan sawit di Padang Lawas (Sumatera Utara), ditransfer ke istri Nurhadi yaitu Tin Zuraida, membeli tas Hermes, membeli pakaian.Kemudian membeli mobil Land Cruiser, Lexus, Alpard beserta aksesoris, membeli jam tangan, membayar utang, berlibur keluar negeri, menukar dalam mata uang asing, merenovasi rumah dan kepentingan lainnya(Sripoku.Com)