Putar Haluan, Petani Karet Pindak Ke Kopi Yang Meroket

Muara Enim, Surya Post.

Meroketnya harga kopi yang menembus angka Rp 19.500 per kilonya membuat Warga Desa Indramayu Kecamatan Tanjung Agung Muara Enim kini mulai balik lagi ke kebun kopi dan meninggalkan karet yang harganya kian menurun.

Diketahui Saat ini harga karet hanya berkisar Rp 5.000 per kilogram. Sedangkan kopi Rp 19.500 per kilo dari sebelumnya yang hanya sekitar Rp 5000.

Dinata (45),  salah seorang  petani karet dan kopi asal Desa Indramayu Tanjung Agung mengaku senang karena harga kopi yang masih bertahan hingga harga 19 ribu lebih perkilo. Sementara harga karet masih bertahan diharga 5 ribu perkilo sehingga saat ini penjualan karetnya terpaksa ditunda menunggu harga naik, dan fokus pada hasil kopi.

Menurutnya, perbandingan harga kopi dengan beras, satu kilogram kopi bisa membeli 2 kilogram beras. Tetapi sebaliknya dengan harga karet sekarang tidak dapat untuk membeli harga beras satu kilogram saja.
Ia menuturkan, daerah penghasil kopi di Tanjung Agung meliputi Desa Bedegung, Indramayu, Padang Bindu, Muara Meo, dan Lubuk Nipis. Selain Kopi dan Karet, petani di Kecamatan Tanjung Agung juga mengandalkan pada sektor pertanian padi.

“Selama ini saya paling jual sekitar 20 kilogram per minggu. Hasilnya cukup untuk makan sehari-hari, dirumah,”imbunhya.

Sementara Marwan (38), petani asal Desa Sugih Waras Kecamatan Tanjung Agung juga mengungkapkan, tingginya harga kopi ini cukup membantu mengatasi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Ia juga mengaku mempunyai kebun kopi dan karet, dengan penghasilan rata-rata 70 kilogram per minggu. Sedangkan, untuk hasil karetnya, terpaksa saat ini ia tahan penjualannya sambil menunggu harga naik.

“Untuk hasil kopi masih lumayan menutupi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan karet tidak kita panen dulu karena harganya masih murah,” katanya.

Menurutnya, sekarang ini beberap petani yang ada di Kecamatan Tanjung Agung baru masuk masa panen. Belum melimpah, katanya, tetapi jika melimpah, menurutnya harga kopi bisa turun lagi.

Kepada pemerintah melalui dinas terkait, meminta untuk dapat memperhatikan para petani yang ada di wilayahnya. Selama ini, petani kopi belum banyak menikmati bantuan yang diberikan pemerintah maupun pihak-pihak terkait.

“Jarang sekali ada bantuan. Baik bibit maupun mesin penggiling kopi di Tanjung Agung,”tambahnya.(jn/net)




Tinggalkan Balasan