Satu Bet Dua Pasien Bumil, Pelayanan RSUD Kayuagung Dinilai Bobrok

Kayuagung,  Surya Post.

Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kayuagung, di rawat inap kebidanan tampaknya semangkin bobrok dari sebelumnya. Terlihat pasien ibu hamil (bumil) yang dirawat di ruang

kebidanan dirawat asal-asalan. Seperti dua pasien bumil harus menempati satu bet (tempat tidur pasien –red) untuk mendapatkan perawatan di Poliklinik Kebidanan dan Kandungan.

Pantauan wartawan, Selasa (19/5) dua orang pasien ibu hamil dari ruang kebidanan yang akan diperiksa ke poliklinik kebidanan dan kandungan tadi dibawa dengan satu bet isinya dua pasien ibu hamil.

Kedua ibu hamil tadi yakni, Linda (32) warga Desa Sungai Menang Kecamatan Sungai Menang yang terguling menahan rasa sakit dan Kurnia (35) warga Kedaton Kecamatan Kayuagung OKI.

Kedua pasien ini dirawat satu bet dari rawat inap menuju rawat jalan klinik kebidanan untuk diperiksa kehamilannya. Kedua bumil ini terus menerus menahan rasa sakit dengan wajah memucat. Namun sudah satu jam berlalu belum ada tindakan dari dokter. Sebab, tidak adanya batang hidung dokter spesialis kebidanan disana. Pasien hanya dilayani oleh dokter koas dan bidan saja.
“Ada Dokter Ismail P,” kata dokter koas Martha seraya menyebutkan sebentar dokter spesialis datang.

Kata sebentar yang dilontarkan dokter koas tersebut, ditunggu-tunggu tak kunjung datang, hingga pasien yang harus mendapatkan pertolongan itu hanya dilayani oleh dokter Ismail dan bidan senior di rumah sakit. Untuk dokter spesialis kebidanan dr H Fanhar Basrin Sp OG dan dr H Rusli Muchtar Sp OG tak hadir hingga pasien sepi dan pulang.

Dokter koas yang diketahui bernama Martha dan Leo sedikit kesal dan marah pada wartawan, ketika ditanya mengenai pelayanan terhadap pasien apakah boleh dalam satu bet untuk membawa dua orang pasien bumil. Para dokter koas inilah sebebasnya melayani pasien karena tidak adanya pengawasan dari dokter spesialis kebidanan.

“Sebenarnya tidak boleh Pak,” jawab Martha tebatah-batah saat ditanya wartawan seputar pelayanan pasien bumil.

Tak hanya pelayanan di kebidanan yang bobrok, terlihat juga pelayanan di bagian Poliklinik Bedah yang tak tampak dokter spesialisnya. Di meja ukuran 70 x 1 meter itu diatasnya hanya ada bacaan bertuliskan nama dr Ayatullah Sp B dan dr Ismi Rosya Forayoga Sp B. Namun, yang melayani pasien bukan dokter tersebut.

Padahal, tanggungjawab dan janji seorang dokter spesialis harus dipenuhi, mengingat jasa dan insentif para dokter spesialis ini gajinya melebihi gaji seorang pejabat berpuluh kali lipat lebih. Namun, apa yang dilayaninya terhadap pasien yang kurang mampu. Sama sekali tidak sebanding dengan apa yang didapatnya selama ini.

“Saya hanya membuka mata hati kita semua, mengenai pelayanan rumah sakit terhadap pasien yang kurang mampu yang memanfaatkan bantuan dari pemerintah apa yang telah dilakukannya,”  tegas Firman warga OKI yang menyayangkan kinerja dokter spesialis yang tak sebanding dengan pendapatanya hingga mencapai Rp 75 juta per bulan untuk satu dokter spesialis.

Direktur RSUD Kayuagung dr H Dedi Sumantri ketika dikonfirmasi melalui telpon mengatakan, pihaknya akan memanggil stafnya mengenai pelayanan rumah sakit menyangkut 2 pasien ditempatkan dalam satu bet. “Jelas tidak boleh,” singkat Dedi yang mengaku masih berada di Mesuji mengikuti kegiatan pemerintah daerah.  (and)




Tinggalkan Balasan