Sumsel Memiliki Sekitar 1,4 Juta Hektare Kawasan Gambut

Photo : Net

Palembang,Surya Post

Sebesar Rp.30 miliar dialokasikan dana tersebut untuk mengantisipasi kabekaran hutan dan lahan pada tahun 2021 oleh Pemerintah Sumatera Selatan,hal ini dikatakan oleh Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru pada rapat koordinasi penanganan karhutla 2021.Dikatakannya dengan melalui porsi anggaran dari APBD ini diharapkan, dapat menekan kebakaran hutan dan lahan seperti pada tahun 2020.“Tahun lalu ada karhutla, tapi tidak banyak. Bahkan Sumsel tercatat sebagai daerah yang relatif bebas kabut asap,” kata Herman .Ia optimistis target ‘zero’ karhutla dapat tercapai mengingat Sumsel telah berpengalaman dalam penanganan bencana alam ini.

Juga dikatakan Guburnur, saat ini Sumsel lebih mengedepankan mitigasi (pencegahan) dengan melibatkan semua pihak terkait.Mulai dari satuan Polri/TNI, BPBD, serta perusahaan perkebunan, pemerintah kabupaten/kota, hingga masyarakat.Salah satu strategi yang dipadang cukup jitu yakni memetakan daerah yang rawan terbakar. Kemudian, semua sumber daya dipusatkan untuk menjaganya sehingga dapat menekan potensi kebakaran hutan dan lahan. Kawasan mudah terbakar itu umumnya merupakan areal bergambut yang rawan terbakar saat musim kemarau.Sumsel saat ini memiliki sekitar 1,4 juta hektare kawasan gambut ,yang tersebar di 10 kabupaten di antaranya Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir dan kabupaten Muaraenim.

“Saya tak henti-hentinya mengingatkan kepala daerah untuk fokus pada pencegahan, saat-saat seperti ini sangatlah tepat untuk persiapan sehingga saat kemarau, semua sarana dan prasaran sudah siap,” kata dia.Pada 2020, Pemprov Sumsel mengalokasikan Rp45 miliar untuk membantu 10 kabupaten/kota yang dinilai rawan karhutla sementara pada 2021 dianggarkan Rp30 miliar yang akan digunakan untuk membuat sekat kanal, sumur bor dan sarana dan prasarana pendukung.
Data Satgas Karhutla Sumsel menyebut luasan lahan terbakar sepanjang 2020 tercatat hanya 418 ha dengan 4.434 titik panas (hotspot) atau turun signifikan dibandingkan 2019 yakni 428.356 hektare dengan 17.024 hotspot.Penurunan intensitas karhutla dipengaruhi juga musim kemarau basah yang melanda wilayah Sumatera Selatan.(Sp)