Tantangan Perkuliahan Daring Di Sumsel “Catatan Kecil Memasuki Perkuliahan Daring Tahun 2021″

Oleh : Dr. Ir. H. ABDUL NADJIB, MM

Dosen FISIP UNSRI / Pemerhati Kebijakan Publik Daerah

Memasuki semester genap tahun akademik 2020/2021 Kementerian Pendidikan dan Ke­bu­­da­­yaan (Kemendikbud) menegaskan bahwa izin kegiatan pembelajaran di perguruan ting­gi dan po­litekenik/akademi komunitas pada semester genap Tahun Akademik 20­20­/2021 dapat di­la­ku­kan secara campuran (hybrid learning), dalam jaringan, dan tatap mu­ka dengan protokol ke­­sehatan yang ketat.Persyaratan Pembelajaran Tatap Muka Jen­jang Pe­ndidikan Tinggi an­ta­ra lain Perguruan tinggi harus mendapatkan rekomendasi atau ber­koordinasi dengan peme­rin­tah  daerah  setempat melalui satuan tugas penanganan Co­vid-19; 2).Sejak awal merebaknya kasus pandemi Covid-19 di Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bergerak cepat dengan melarang perguruan tinggi untuk melak­sa­na­kan per­ku­li­ah­an tatap muka (konvensional) dan memerintahkan untuk menye­leng­ga­ra­kan per­kuliahan a­tau pembelajaran secara daring (Surat Edaran Kemendikbud Dikti No. 1 ta­hun 2020).

Per­gu­ru­­an Tinggi yang adaptif dengan cepat merespon instruksi pemerintah un­tuk mengambil lang­kah-langkah penyelamatan civitas academicanya dari serangan Co­vid-19.Termasuk Per­gu­ru­an Tinggi yang ada di kota Palembang dengan menerbitkan beberapa kebijakan  tentang pen­ce­gahan penyebaran corona virus diesease (Covid-19) di lingku­ng­an masing-masing, dan ins­truksi penyelenggaraan pembelajaran daring pada se­mes­ter ganjil tahun akademik 2020/2021.Gubernur Sumatera Selatan, Bapak H. Herman Deru menyatakan bahwa untuk tahun ajaran 2020/2021 yang di mulai bulan Januari 2021, Sumatera Selatan masih mem­ber­la­ku­kan proses belajar mengajar daring/on line karena masih tingginya tingkat penularan Co­vid-19 di dae­rah ini.Demikian pula beberapa perguruan tinggi negeri di Palembang akan melaksanakan per­ku­liahan daring pada semester genap tahun akademik 2020/2021.

Hal ini selaras dengan E­dar­an Pemerintah Pusat tentang Pembatasan Kegiatan untuk Pe­ngen­dalian Penyebaran Co­vid-­19 pada tanggal 11–25 Januari 2021, antara lain menye­but­­kan pelaksanaan WFH sampai 75 % dan proses belajar mengajar dilaksankan secara da­ring.Bentuk perkuliahan yang dapat dijadikan solusi dalam masa pandemi covid-19 adalah pem­be­­lajaran daring.Pembelajaran daring merupakan pembelajaran “dalam jaringan” se­­bagai ter­je­mahan dari istilah online yang bermakna tersambung ke dalam jaringan ko­m­­puter.Pem­be­la­jaran daring mampu mempertemukan mahasiswa dan dosen untuk me­laksanakan interaksi pem­­belajaran dengan bantuan internet.Pada tataran pelaksa­na­an­nya pembelajaran daring me­mer­lukan dukungan perangkat-perangkat mobile seperti smar­pho­ne atau telepon adroid, lap­top, komputer, tablet, dan iphone yang dapat diper­gu­nakan untuk mengakses informasi kapan saja dan dimana saja.

Pelaksanaan pembelajaran daring yang selama ini digunakan sebagai pendamping meto­de pem­belajaran In Class, pada masa pandemi ini harus menjadi metode pembelajaran uta­ma de­mi tetap terlaksananya proses belajar mengajar.Perkuliahan daring meng­gu­na­kan aplikasi se­perti Zoom, Google Classroom, Google Meet dan berbagai virtual account la­innya yang ber­ba­sis internet, tentunya mem­bu­tuh­kan kuota data internet bagi pengajar mau­pun mahasiswa.Me­nurut (Daryanto, 2013:31) karakteristik pembelajaran secara da­ring (E-Learning) men­cip­takan pembelajaran antara peserta didik dan pendidik yang ti­dak harus bertatap muka.Tetapi, pertemuan dapat terwakili dengan kehadiran media in­ternet yang digunakan.

Budaya Adaptif Perguruan Tinggi

Pandemi COVID-19 menyebabkan perguruan tinggi melakukan budaya adaptif.Tiga di­men­­si dan indikatornya adalah yaitu penciptaan perubahan, fokus pada konsumen (ma­ha­siswa), dan pem­belajaran organisasi.

Penciptaan perubahan akan dilihat dari :

(1)    ca­ra perguruan tinggi me­lakukan segala sesuatu  yang fleksibel dan mudah dalam meng­ha­dapi perubahan,dan (2) ke­mampuan universitas dalam memberikan tanggapan ter­ha­dap perubahan-perubahan lain dalam lingkungan.Fokus pada konsumen (mahasiswa) dilihat dari :

(1)   komentar- komentar dan saran-sa­ran Mahasiswa yang bisa menyebabkan perubahan, (2) semua anggota (universitas) me­mi­liki pe­ma­haman yang dalam terhadap keinginan dan kebutuhan mahasiswa.

Pem­be­la­jaran orga­ni­sa­si dilihat dari:

(1)   Perguruan Tinggi melakukan inovasi dan mengambil risiko

(2)   dan Per­guruan tinggi terus belajar dan atau memberikan sumbangan pemi­kir­an/alternatif solusi da­lam menyikapi perubahan yang terjadi di lingkungan eksternal.(3)   tranformasi pembelajaran dan sinergi, kolaborasi antar pendidikan tinggi diyakini dapat menjadi salah satu kunci per­gu­ruan tinggi untuk keluar dari krisis pandemi COVID- 19 yang berkepanjangan.

Niken Bayu Argaheni (2020) menyatakan pembelajaran daring memiliki beberapa man­fa­at, di antaranya dapat(1) meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara maha­sis­wa dengan do­sen,(2) memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dimana dan ka­pan saja,(3) men­jangkau mahasiswa dalam cakupan yang luas,dan (4) mempermudah pe­nyempurnaan dan pe­nyimpanan materi pembelajaran.Aktivitas belajar mahasiswa de­ngan pembelajaran daring (on­line) dapat membuat maha­siswa tidak merasa bosan, se­ma­kin tertarik, dan aktif dalam me­­­ngikuti pembelajaran[,(5) Kebermaknaan belajar, ke­mu­dahan mengakses, dan pening­kat­an hasil belajar.

Tantangan Perkuliahan Daring Hasil survei sederhana yang dilakukan penuis melalui wawancara mendalam by telepon ter­­ha­­dap 32 orang mahasiswa dari salah satu universitas negeri ternama di Palembang.Khu­­sus­­nya mahasiswa yang telah melakukan perkuliahan daring pada sementer ganjil TA 2020/­2021 ditemukan dampak perkuliahan daring yang menjadi tantangan bagi per­gu­ruan tinggi dan pemerintah daerah antara lain adalah :

  1. Mahasiswa Memaklumi Perkuliahan Daringdilakukan

Dalam kondisi pandemi Covid-19 yang tidak kunjung reda. Bahkan di Sumatera Selatan   khu­susnya kota Palembang mengalami peningkatan penularan virus corona yang sema­kin ce­pat dan tinggi.Sekitar 75 persen  mahasiswa dapat memaklumi atau menyetujui per­kuliahan da­ring tetap dilakukan dalam semester genap tahun akademik 2020­/2021.Na­mun demikian bila kondisi pandemi ini sudah dapat dikendalikan maka mahasiswa mengharapkan kuliah ta­tap muka di kampus dapat segera diberlakukan kembali.

  1. Peningkatan kemampuan literasi digital mahasiswa dan dosen.

Pandemi Covid-19 memberikan tantangan tersendiri untuk dunia pendidikan, yang me­nun­tut ha­rus siap mengajar dan belajar secara online/daring hingga menjadikan perku­li­ah­an sarat de­ngan kompetensi, tepat, cermat dan cepat.Disisi lain kompetensi, system, dan teknis belum men­dukung sepenuhnya untuk itu.Dikarenakan selama ini pem­be­la­jaran dilaksanakan oleh do­sen terbiasa dengan pola lama dengan teacher centered.Pem­belajaran daring baru sampai pa­da wacana sebagai perangkat teknis, belum meng­arah pa­da media pengubah cara berfikir dan bertindak, sebagai paradingma pem­belajaran ber­ba­sis student center, untuk menjadikan peserta didik  kreatif, inovatif yang meng­hasilkan karya, dan wawasan pembentukan peserta didik menjadi pembelajar sepanjang ha­yat.

Pembelajaran daring ini memberikan dampak peningkatan literasi digital pada ma­ha­sis­wa dan dosen meliputi wawasan (knowledge), keterampilan (skills), dan perilaku (atti­tu­de) di­git­al.Sehingga, dapat optimal dalam memanfaatkan jaringan internet melalui smart­phone, laptop, komputer, dan sebagainya dengan menggunakan aplikasi seperti Zoom,Goo­gle Classroom, Google Meet dan berbagai virtual account lainnya yang berbasis in­ter­net dalam proses belajar mengajar.Meningkatnya literasi digital ini juga mendorong per­cepatan implementasi revo­lu­si industry 4.0 di kalangan perguruan tinggi.

  1. Penerimaan Materi dalam Perkuliahan Daring

Tidak semua mahasiswa memiliki sarana pendukung yang cukup dalam perkuliahan da­ring.Se­lain itu kondisi di rumah sebagai implementasi Study From Home (SFH) juga tid­ak se­pe­nuhnya memberikan kenyamanan dalam peoses belajar karena ada faktor kelu­ar­ga dan ke­ter­batasan ruangan dan jaringan.Selain itu kondisi dosen juga mempengaruhi pro­ses belajar me­ng­ajar karena tidak semua dosen memiliki kompetensi dan kete­ram­pil­an yang mumpuni da­lam pemanfaatan sarana perkuliahan daring.Rata-rata mahasiswa hanya bisa menerima ma­teri pembelajaran dari dosen sekitar 60–70 persen.Oleh karena itu proses belajar meng­ajar terasa lebih lambat dan relative lebih susah diterima.Kondisi ini dikuatkan juga oleh pola mengajar beberapa dosen yang  satu arah dan mis­kin in­ter­aksi atau diskusi.Untuk mengopti­mal­kan perkuliahan daring ini diperlukan kerjasama yang sinergis antara dosen dan ma­ha­siswa.

  1. Merindukan Perkuliahan Tatap Muka

Hampir semua mahasiswa menyatakan memilih kuliah tatap muka bila kondisi sudah me­­mungkinkan.Mereka merindukan perkuliahan in class karena terjadi interaksi lang­sung mem­­­berikan sentuhan bermakna antara pendidik dan peserta didik, yang dapat me­rang­sang pi­kiran, perasaan dan kemauan peserta didik.Melalui interaksi langsung, pen­didik mampu me­wujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran sesuai dengan ka­rakter dan kebutuhan peserta didik serta pencapaian tujuan pendidikan.Lebih dalam lagi, in­teraksi secara langsung an­tara pendidik dan peserta didik mampu memunculkan pe­rasaan saling membutuhkan, meng­hargai, kasih sayang, sampai perasaan rindu ketika pe­serta didik lulus dari mata kuliah yang diampu dosen tersebut.Pembelajaran tatap muka juga akan menumbuhkan energy positif dalam pembelajaran yang lebih kuat pada ma­ha­siswa maupun dosen itu sendiri.

  1. Keterbatasan Sarana Prasarana Perkuliahan Daring

Ada sekitar 30 persen mahasiswa menyatakan keterbatasan sarana prasarana meng­aki­bat­kan per­kuliahan daring tidak berjalan lancar.Hambatan yang disampaikan terutama o­leh maha­sis­wa dari keluarga kurang mampu dan atau mahasiswa yang tinggal di daerah yang cukup jauh dari kota.Mulai dari kepemilikan Hp, computer, laptop, jaringan sam­pai kuota internet menjadi hambatan utama ketidaklancaran perkuliahan daring bagi me­reka.Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama antara Pemerintah Daerah setempat dan Perguruan Tinggi agar da­pat mengatasi hambatan ini sesegera mungkin sehingga da­pat mendukung kelancaran  pem­belajaran  daring di era pandemi Covid-19.Pem­bang­un­an infrastruktur dan jaringan sam­pai ke pelosok desa menjadi tanggung jawab peme­rin­tah daerah, sedangkan bantuan kuota in­ternet dapat diberikan oleh perguruan tinggi.

Na­mun demikian konstribusi dunia usaha juga di­butuhkan secara sinergis dan inovatif de­ngan perguruan tinggi dan dunia usaha untuk men­dukung kelancaran pembelajaran daring secara terkolaboratif. Sebagaimana kita maklumi bahwa WHO (Badan Kesehatan Dunia) sudah memberi in­formasi kepada seluruh dunia bahwa Covid-19 tidak akan hilang dengan mudah dan  ce­pat di muka bu­mi ini meski vaksin telah ditemukan.Oleh karena itu kita harus siap dan ikhlas hidup ber­sama Covid-19 secara  produktif dan aman, termasuk dalam melanjutkan per­kuliahan daring dengan melaksanakan perbaikan atas kekurangannya.-ans.(Sripoku)