Ucapkan Selamat ke Joe Biden, Putin Tunggu Hasil Resmi Pilpres AS

Moskow,Surya Post

Presiden Rusia Vladimir Putin akan memberi selamat kepada presiden terpilih Amerika Serikat setelah hasil resmi diumumkan. Hal itu diungkapkan juru bicara kepresidenan Dmitry Peskov.”Presiden (Rusia), tentu saja, akan mengirim pesan ucapan selamat kepada siapa pun yang dinyatakan sebagai presiden terpilih (Amerika Serikat). Kami sudah mengatakan ini. Jika kami memahami ini dengan benar, presiden terpilih belum belum diumumkan,” kata Peskov kepada wartawan seperti dilansir dari Sputnik, Sabtu (14/11/2020).Ketika ditanya apakah Rusia akan menunggu hingga akhir proses pengadilan jika Presiden yang sedang menjabat Donald Trump pergi ke pengadilan atas hasil tersebut, Peskov mengatakan: “Bukan urusan kami ketika hasil resmi diumumkan.

Begitu hasil resmi dihitung, Putin akan mengirim pesan ucapan selamat.”.”Pejabat Rusia tidak memiliki kontak dengan tim Biden,” Peskov menekankan.Sebelumnya, Wakil Menter Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov juga mengatakan negaranya belum melakukan kontak dengan tim Presiden terpilih Joe Bidendan tidak berencana untuk melakukannya.Ryabkov mengatakan Moskow belajar dari pengalaman pada 2016, ketika duta besar Rusia untuk AS mendapat kritik atas ucapannya ke pemerintahan Donald Trump yang akan datang.Presiden AS Donald Trump telah menolak untuk mengakui kekalahannya dalam pemilu, meskipun penantangnya dari Partai Demokrat Joe Biden dengan tegas menyatakan kemenangannya.

Trump dan sekutunya dari Partai Republik mengklaim tanpa bukti bahwa kecurangan yang meluas telah terjadi dalam pemilu 2020 dan telah meluncurkan lebih dari selusin gugatan hukum sambil menolak untuk menyerah.Pada hari Senin, pejabat tinggi kejahatan pemilu Departemen Kehakiman mengundurkan diri setelah Jaksa Agung William Barr mengesahkan penyelidikan atas kecurangan pemilu – sebuah tindakan yang bertentangan dengan pedoman departemen yang sudah lama ada untuk mencegah campur tangan dalam pemilu.Menurut The New York Times, beberapa pengacara di perusahaan yang mewakili tim kampanye Trump khawatir pekerjaan mereka tidak didasarkan pada bukti dan dapat merusak demokrasi AS.(SindoNews)